Perang AS-Israel Vs Iran Picu Ancaman Krisis Pangan Global Melalui Pupuk
Perhatian dunia saat ini terfokus pada konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, yang tidak hanya berdampak pada sektor energi tetapi juga mengancam stabilitas pangan global. Salah satu faktor kritis yang sering terabaikan adalah gangguan pada pasokan pupuk, komoditas vital untuk pertanian dunia.
Pupuk Tertahan di Negara-Negara Teluk
Ratusan ribu ton pupuk saat ini tertahan di negara-negara Teluk akibat perang tersebut. Menurut data dari Signal Group, perusahaan inteligensi maritim, kawasan ini menyumbang sekitar 20% dari volume perdagangan global unsur nutrisi pupuk utama seperti amonia, fosfat, dan sulfur. Bloomberg Intelligence melaporkan bahwa hampir setengah perdagangan urea, produk pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan di dunia, berasal dari Teluk, dengan Qatar berkontribusi sekitar sepersepuluh pasokan global.
Ketika QatarEnergy menghentikan produksi setelah serangan Iran terhadap Ras Laffan, pusat LNG dan pupuk terbesar di dunia, ratusan ribu ton unsur nutrisi pupuk utama dan bahan prekursornya terhenti. Ini menciptakan efek berlapis yang mengancam ketahanan pangan global, mirip dengan dampak pandemi COVID-19 dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Dampak pada Harga dan Produksi Pertanian
Sejak konflik dimulai, harga pupuk telah naik 10 hingga 30%, meskipun masih sekitar 40% lebih rendah dibandingkan pasca-invasi Rusia ke Ukraina. Menurut UNCTAD, badan PBB yang membantu negara berkembang, sekitar 1,33 juta ton pupuk diekspor melalui Selat Hormuz setiap bulannya. Penutupan selat selama 30 hari saja dapat memicu kekurangan dan risiko penurunan hasil bagi tanaman seperti jagung, gandum, dan padi yang bergantung pada nitrogen.
Joseph Glauber, peneliti senior di International Food Policy Research Institute (IFPRI), menjelaskan kepada DW bahwa harga pupuk yang tinggi mempengaruhi pilihan tanaman. "Petani mungkin memilih tanaman yang membutuhkan lebih sedikit pupuk dibanding tanaman yang membutuhkan pupuk nitrogen intensif, untuk menghindari biaya yang lebih tinggi," katanya. Dia menambahkan bahwa petani di negara-negara berpenghasilan rendah mungkin mengurangi penggunaan pupuk, yang dapat menurunkan produksi tanaman.
Ketegangan di Selat Hormuz dan Rantai Pasokan
Meski Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa perang "hampir sepenuhnya berakhir," Iran menembaki tiga kapal di Hormuz pada 11 Maret, menunjukkan tekad Teheran untuk menutup selat tersebut. Menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), insiden ini menjadi penanda ancaman berkelanjutan.
Analis komoditas memperingatkan bahwa semakin lama kapal angkut tidak dapat melalui Hormuz, semakin besar kemungkinan stagnannya rantai pasokan pupuk global. Riset bank Belanda ING pada awal Maret menyatakan, "Gangguan berkepanjangan akan secara signifikan memperketat ketersediaan pupuk di wilayah yang sangat bergantung pada impor seperti Brasil, India, Asia Selatan, dan sebagian Uni Eropa."
Kapasitas Cadangan Terbatas dan Tantangan Produksi
Produsen pupuk lain seperti Rusia, China, Amerika Serikat, dan Maroko memiliki kapasitas cadangan yang terbatas dan akan kesulitan meningkatkan produksi untuk mengisi kekurangan. China, yang telah memberlakukan pembatasan ekspor pupuk fosfat dan nitrogen, kini 'terpaksa' melonggarkan pembatasan tersebut.
Glauber, mantan ekonom senior di Departemen Pertanian AS, mencatat bahwa nitrogen bisa diproduksi di negara mana saja yang memiliki gas alam atau batu bara, berbeda dengan potas atau fosfat yang bergantung pada cadangan mineral. Namun, masalah utamanya adalah harga gas alam yang tinggi, membuat peningkatan produksi tidak ekonomis.
Dampak Harga Minyak pada Biaya Pangan
Di luar keterbatasan pupuk, peran dominan minyak dalam menentukan biaya pangan sangat jelas. Minyak menggerakkan mesin pertanian, truk pengangkut hasil panen, pabrik pengolahan, dan sistem pendinginan. Dengan harga minyak Brent masih tinggi di sekitar $89 setelah sempat melonjak hingga $119,50, dampaknya sudah terasa dengan naiknya harga bahan bakar di berbagai negara.
Harga bahan bakar solar di barat AS melonjak 14% dalam dua minggu terakhir, sedangkan di Jerman naik hingga seperlimanya dalam beberapa hari. Negara-negara Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan juga mengalami lonjakan tajam. Pemerintah India mengantisipasi hal ini dengan mematok harga solar untuk melindungi konsumen.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa kenaikan harga energi sebesar 10% yang bertahan selama satu tahun dapat menambah 0,4 poin persentase pada inflasi global dan memangkas hingga 0,2% dari pertumbuhan ekonomi dunia. Glauber menegaskan, "Energi secara tidak langsung berkontribusi pada 50% harga makanan."
Negara yang Paling Terdampak
Dampak kemanusiaan dari perang ini dirasakan secara tidak merata, dengan negara-negara berpenghasilan rendah dan yang bergantung pada impor menanggung beban terberat.
- India: Bergantung pada negara Teluk untuk impor dua pertiga pupuk nitrogen dan sebagian besar urea. Kekurangan dapat membuat musim tanam rentan, memicu kenaikan biaya produksi beras, gandum, dan bahan pangan pokok lainnya untuk 1,45 miliar orang.
- Brasil: Eksportir pertanian terbesar yang bergantung pada urea dari Teluk untuk 40% kebutuhan nitrogennya. Gangguan berkepanjangan dapat mengancam hasil panen kedelai dan jagung.
- Afrika Sub-Sahara: Menghadapi risiko besar karena banyak negara sudah minim menggunakan pupuk. Kenaikan harga kecil sekalipun dapat memaksa petani mengurangi penggunaan, menurunkan panen dan memperparah kelaparan.
- Iran: Inflasi sudah melebihi 40% sebelum konflik, dengan harga makanan meningkat lebih tinggi. Gangguan impor dan biaya energi dapat semakin meningkatkan inflasi pangan.
- Negara-Negara Teluk: Mengimpor 80 hingga 90% makanan mereka, sangat bergantung pada Selat Hormuz. Penutupan berkepanjangan dapat menguras cadangan strategis dalam hitungan bulan.
Artikel ini menggarisbawahi bagaimana konflik geopolitik dapat memiliki efek domino yang luas, tidak hanya pada keamanan tetapi juga pada ketahanan pangan global, dengan konsekuensi yang mungkin berlangsung lama.
