Cuaca panas ekstrem dan hawa gerah melanda sejumlah daerah di Indonesia belakangan ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan pemicu fenomena tersebut. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa kondisi ini terjadi akibat gerak semu matahari tahunan yang berada di dekat ekuator atau wilayah selatan ekuator.
Faktor Penyebab Cuaca Panas Ekstrem
Kondisi panas yang tidak biasa ini diperparah oleh kombinasi berbagai faktor, seperti minimnya tutupan awan, peralihan musim, dan dampak pemanasan global. Menurut Ardhasena, sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Jawa Timur, saat ini sedang atau menjelang fase peralihan dari musim hujan ke kemarau. Fase ini ditandai dengan cuaca dinamis, di mana beberapa hari terasa panas namun kadang-kadang terjadi hujan lebat.
Lima Daerah dengan Suhu Tertinggi
Berdasarkan catatan BMKG pada bulan April, sejumlah daerah di Indonesia mencatat suhu tinggi yang tembus di atas 35 derajat Celcius hingga 36 derajat Celcius. Berikut adalah lima daerah dengan suhu tertinggi:
- Balai Besar MKG Wilayah I, Medan, Sumatera Utara: 36,3 derajat Celcius
- Balai Besar MKG Wilayah II, Ciputat, Banten: 36,0 derajat Celcius
- Stamet Sanggu, Barito Selatan, Kalimantan Tengah: 36,0 derajat Celcius
- Stamet Fatmawati Soekarno, Bengkulu, Bengkulu: 35,8 derajat Celcius
- Staklim Bengkulu, Bengkulu, Bengkulu: 35,6 derajat Celcius
Panas Berlanjut hingga Mei, Puncak Kemarau Agustus 2026
Ardhasena menyatakan bahwa kondisi panas akan berlanjut di bulan Mei. Apalagi, pada bulan ini wilayah-wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT memasuki musim kemarau. BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan terasa lebih kering dibanding tahun sebelumnya. "Mei, wilayah-wilayah ini sudah memasuki musim kemarau sehingga curah hujan cenderung sedikit dan pemanasan matahari cenderung maksimal," tuturnya. Selain itu, akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar Indonesia diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Sementara itu, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghadapi kondisi cuaca panas yang akan terjadi ke depan. Ardhasena mengajak masyarakat untuk memastikan asupan cairan tubuh cukup guna menghindari dehidrasi. Ia juga menganjurkan penggunaan tabir surya saat beraktivitas di luar rumah. "Gunakan pakaian berbahan ringan, longgar, dan menyerap keringat seperti katun serta berwarna cerah yang memantulkan panas," jelasnya. Terakhir, ia menyarankan untuk membatasi aktivitas berat yang menguras energi di bawah terik matahari langsung, terutama antara pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.



