Wagub Rano Karno Siap Pimpin Langsung Revitalisasi Kota Tua dengan Berkantor di Lokasi
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyatakan kesiapannya untuk berkantor langsung di kawasan Kota Tua. Langkah ini bertujuan memimpin dan memastikan percepatan penataan kawasan bersejarah tersebut, yang menjadi fokus utama pemerintah provinsi.
Keseriusan Pemprov DKI dalam Penataan Kawasan Bersejarah
Rano Karno, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Revitalisasi dan Penataan Kota Tua, menegaskan komitmennya dalam rapat di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (9/4/2026). "Keseriusan ini adalah kita sudah mempunyai tim revitalisasi Kota Tua dan insyaallah di saat waktunya tepat, saya sendiri sebagai penanggung jawab akan berkantor di Kota Tua," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa rencana berkantor di Kota Tua akan direalisasikan dalam waktu dekat, seiring dengan kesiapan tempat dan desain ruang kerja yang sedang disiapkan. "Kita sudah membentuk pokja-pokja agar apa? Agar koordinasi antar lintas bisa segera cepat. Sementara barangkali tempat sudah dapat, baru rencana kita akan, ya, desain untuk di dalam. Mungkin satu bulan lagi baru kita akan pindah ke Kota Tua," tambah Rano.
Target Revitalisasi dan Kolaborasi dengan Berbagai Pihak
Proses revitalisasi Kota Tua ditargetkan mulai dalam waktu sebulan ke depan. Langkah ini merupakan hasil pembahasan dalam forum Intimate Dialogue Kota Tua Update, yang dihadiri oleh Gubernur, Sekretaris Daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), serta konsorsium Kota Tua.
"Kami membahas tentang rencana revitalisasi Kota Tua untuk mengembalikan identitas Jakarta sekaligus memperkuat posisinya sebagai kota global yang berakar pada sejarah dan budaya," jelas Rano. Pemprov DKI juga menggandeng konsorsium dan para pakar, termasuk tim yang berpengalaman dalam penataan kawasan Kota Lama Semarang, untuk memastikan keberhasilan proyek ini.
Integrasi Museum Bahari dalam Pengembangan Kota Tua
Sebelumnya, Rano Karno telah menekankan pentingnya Museum Bahari sebagai bagian integral dari pengembangan kawasan Kota Tua. Hal ini sejalan dengan kerja sama antara Jakarta dan Rotterdam. "Saat Kota Tua Jakarta dibangun dan ditata kembali, saya tidak ingin Museum Bahari berdiri sendiri. Museum ini harus menjadi bagian utuh dari penguatan identitas sejarah dan maritim Jakarta," ujarnya saat meresmikan Sustainable Development Goals (SDGs) Corner di Museum Bahari pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Museum Bahari diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan sejarah maritim, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran mengenai pembangunan berkelanjutan. SDGs Corner, hasil sinergi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dirancang sebagai ruang edukatif dan inklusif yang menyajikan tantangan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan serta kisah kehidupan laut Indonesia.
Tantangan dan Komitmen Pembangunan Berkelanjutan
Rano mengakui bahwa sebagai kota pesisir, Jakarta menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, kenaikan muka air laut, banjir rob, dan ketahanan sosial masyarakat pesisir. "Tantangan tersebut menuntut arah pembangunan Jakarta yang berpihak pada prinsip keberlanjutan dan keadilan, sebagaimana semangat SDGs," terangnya.
Komitmen Pemprov DKI terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai kebijakan, termasuk:
- Program pangan bersubsidi
- Kartu layanan gratis bagi penyandang disabilitas
- Penguatan aksi iklim
- Perluasan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Di wilayah pesisir, upaya konkret meliputi rehabilitasi mangrove dan terumbu karang, pembangunan tanggul pantai dan rumah susun pesisir, serta penguatan Program Kampung Iklim Pesisir. Dengan langkah-langkah ini, Rano Karno berharap revitalisasi Kota Tua dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi warga Jakarta.



