Ribuan Ikan Koi Adu Pesona di BRIN Bogor, Ajang Internasional Pacu Industri Nasional
Kontes Koi Internasional di BRIN Bogor, Ribuan Ikan Diadu

Ribuan Ikan Koi Adu Pesona di BRIN Bogor, Ajang Internasional Pacu Industri Nasional

Sebanyak 1.044 ekor ikan koi dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara memeriahkan kontes Indonesia Japan Koi Show 2026 Eternal Glory yang digelar di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bogor, Jawa Barat. Ajang bergengsi ini diikuti oleh sekitar 103 handler dan 480 pemilik dari berbagai kota, termasuk peserta dari Malaysia dan Singapura, menciptakan atmosfer kompetisi yang hangat dan penuh semangat.

Penilaian Ketat oleh Juri Internasional

Para peserta memperebutkan berbagai kategori juara prestisius, mulai dari super grand champion, grand champion, jumbo champion, hingga superior champion. Uniknya, dewan juri didatangkan langsung dari Jepang untuk memastikan standar penilaian yang tinggi dan objektif. Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa aspek krusial:

  • Keindahan secara keseluruhan
  • Kualitas kulit yang mulus dan sehat
  • Kecerahan dan konsistensi warna
  • Keunikan dan kejelasan corak

Ketua Yayasan Koi Indonesia, Sora Lokita, menjelaskan bahwa ikan koi yang berhasil meraih gelar juara tidak hanya mendapatkan hadiah, tetapi juga mengalami peningkatan nilai jual yang signifikan di pasaran.

Dorong Industri dan Nilai Jual

Sora menegaskan bahwa kontes ini dirancang untuk mengembangkan industri koi di tanah air secara komprehensif. "Kami melibatkan semua elemen, mulai dari dealer importir koi dari Jepang, pecinta, peternak, hingga handler atau penjual koi yang ada di Indonesia," ujarnya. Yayasan Koi Indonesia secara rutin menggelar kompetisi antar handler maupun peternak koi lokal, dengan ajang ini sebagai puncak dari seluruh rangkaian.

Harapannya, industri hobi koi yang sudah menjalar dari perkotaan hingga pedesaan ini terus menggeliat. "Kami ingin industrinya tidak hanya bergantung pada ikan impor, tetapi juga mengembangkan koi lokal yang kualitasnya kini semakin baik dan mampu bersaing dengan koi Jepang," tambah Sora dengan penuh optimisme.

Simbol Persahabatan dan Daya Saing Nasional

Kepala BRIN Arif Satria menyoroti aspek budaya dalam ajang ini, menyebut ikan koi sebagai simbol persahabatan antara Indonesia dan Jepang. Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Machmud menilai kontes ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sarana strategis untuk mendorong pertumbuhan dan daya saing perikanan nasional.

"Penyelenggaraan ini membuktikan bahwa kualitas ikan koi hasil breeding peternak Indonesia sudah bisa bersaing dengan koi asal Jepang. Ini sangat luar biasa," kata Machmud. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia menempati posisi kedua sebagai pengekspor ikan air tawar dunia setelah Jepang, dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD40 juta yang mencakup ikan koi.

Strategi Pengembangan Ikan Hias

Machmud mengungkap data produksi ikan nasional yang meningkat dari 1,49 miliar ekor pada 2020 menjadi 1,58 miliar ekor pada 2024. Kenaikan ini turut mendorong peningkatan nilai ekspor ikan hias Indonesia, menjadikannya komoditas penting dalam memperkuat devisa negara.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menyiapkan sejumlah strategi pengembangan ikan hias, antara lain:

  1. Peningkatan produksi melalui dukungan teknis dan finansial kepada pembudidaya
  2. Penguatan mutu melalui standarisasi dan sertifikasi
  3. Perluasan akses pemasaran domestik dan ekspor melalui promosi intensif
  4. Pengembangan eduwisata ikan hias sebagai sarana edukasi masyarakat

"Kami juga mengembangkan eduwisata ikan hias sebagai sarana edukasi masyarakat untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ikan hias sejak dini," pungkas Machmud, menegaskan komitmen pemerintah dalam membangun industri perikanan hias yang berkelanjutan dan kompetitif di kancah global.