Rangga adalah potret pekerja teks Gen Z yang galau atas hidupnya, bukan karena urusan percintaan, melainkan pekerjaan. Regulasi tenaga kerja pasca-UU Cipta Kerja mengharuskan kontraknya berakhir setiap 5 tahun, meski dia sudah bekerja dengan sangat baik. Bagi Rangga, kontribusi dan loyalitas bagi perusahaan bukan lagi menjadi kepastian mata uang yang dapat ia tukar dengan predikat "karyawan tetap". Ia merasa durasi kontrak dan pesangon bukan lagi jaminan hidup, melainkan jam weker yang selalu mengingatkannya untuk segera memperbarui CV.
Dampak Regulasi pada Pekerja Gen Z
Kebijakan ini menimbulkan kecemasan di kalangan pekerja muda, terutama generasi Z yang baru memulai karier. Mereka merasa tidak memiliki kepastian kerja jangka panjang, yang berdampak pada perencanaan hidup seperti menikah, membeli rumah, atau investasi. Rangga, misalnya, harus selalu siap dengan kemungkinan kontrak tidak diperpanjang, meskipun kinerjanya baik.
Perubahan Status Karyawan Tetap
Sebelum UU Cipta Kerja, banyak pekerja berharap bisa menjadi karyawan tetap setelah beberapa tahun bekerja. Namun, dengan aturan baru, status tetap menjadi sulit diraih. Perusahaan lebih memilih kontrak jangka pendek untuk fleksibilitas biaya. Akibatnya, loyalitas pekerja tidak lagi dihargai dengan jaminan kerja seumur hidup.
Strategi Bertahan Pekerja Gen Z
Untuk menghadapi ketidakpastian, pekerja Gen Z seperti Rangga mulai mengambil langkah proaktif. Mereka rajin mengikuti pelatihan, memperluas jaringan, dan selalu memperbarui portofolio. Beberapa bahkan mempertimbangkan untuk beralih ke pekerjaan lepas atau memulai bisnis sendiri. Namun, tidak semua memiliki kesempatan yang sama, terutama mereka dengan keterbatasan akses pendidikan atau modal.
Regulasi ini memicu diskusi tentang perlunya kebijakan yang lebih melindungi pekerja, terutama generasi muda. Pemerintah diharapkan dapat mengevaluasi dampak UU Cipta Kerja terhadap kesejahteraan pekerja, sehingga tercipta keseimbangan antara fleksibilitas perusahaan dan kepastian hidup pekerja.



