Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah mempertemukan 111 produsen dan 99 offtaker (pembeli) bahan pokok penting (bapokting) dalam upaya menjaga inflasi dan memastikan keterjangkauan pangan bagi masyarakat. Pertemuan ini digelar dalam acara Rapat Koordinasi TPID dan Temu Bisnis Kerja Sama Antardaerah (KAD) Intra Provinsi Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (10/6/2026). Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M Nur Nugroho, serta para bupati dan wali kota se-Jawa Tengah.
Langkah Strategis Pengendalian Inflasi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan bahwa acara ini merupakan langkah penting untuk mengendalikan inflasi di wilayahnya. Ia menilai kondisi inflasi di Jawa Tengah relatif baik dan perlu dipertahankan. "Harapannya terjadi kerja sama di antara para bupati/walikota, produsen, dan offtaker yang ada, sehingga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok penting bagi masyarakat terkendali, output-nya adalah inflasi di Jawa Tengah bisa terjaga," ujar Ahmad Luthfi dalam keterangan tertulis.
Luthfi menambahkan bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Oleh karena itu, setiap produksi pangan harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Tengah terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan provinsi lain. "Salah satu caranya adalah mengefektifkan distribusi pangan antar daerah melalui aglomerasi maupun kerja sama antardaerah," tuturnya.
Efisiensi Distribusi Pangan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M Nur Nugroho, menyampaikan bahwa acara ini merupakan upaya bersama untuk memperkuat ketahanan dan stabilitas harga pangan sebagaimana dicanangkan dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). "Yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari efisiensi distribusi itu. Kita coba pertemukan para produsen bahan pangan pokok dengan offtaker," katanya.
Melalui pertemuan bisnis tersebut, diharapkan offtaker dapat mengumpulkan bahan-bahan pangan yang diproduksi oleh para produsen untuk dipasarkan di wilayah Jawa Tengah. Tujuannya tentu saja agar harga-harga pangan bisa lebih terkendali. Dari temu bisnis tersebut, komoditas yang paling diminati meliputi beras sebanyak 30 peminat, minyak goreng 24 peminat, cabai 25 peminat, bawang merah 13 peminat, jagung 4 peminat, dan telur 3 peminat.
Pasokan Produsen dan Potensi Kerja Sama Daerah
Dari sisi produsen, pasokan terbesar berasal dari komoditas cabai yang dihadiri oleh 33 produsen, beras 28 produsen, jagung 25 produsen, bawang merah 20 produsen, telur ayam 4 produsen, dan minyak goreng 2 produsen. "Mudah-mudahan dari pertemuan antara produsen dan offtaker ini dicapai transaksi ataupun komitmen untuk melakukan kerja sama perdagangan. Untuk mendukung itu, kami juga buatkan database-nya supaya koordinasi dengan TPID bisa lebih optimal," jelas M Nur Nugroho.
Secara kewilayahan, beberapa daerah menunjukkan potensi transaksi yang cukup tinggi dari sisi offtaker. Kabupaten Klaten dan Kota Semarang tercatat memiliki potensi kebutuhan kerja sama terbesar dengan total 11 potensi kerja sama. "Banjarnegara, Banyumas, Kendal, dan Wonosobo masing-masing 7 potensi kerja sama. Dari sisi produsen, Kabupaten Demak dan Grobogan masing-masing memiliki 9 potensi kerja sama, serta Kabupaten Batang dan Brebes masing-masing 7 potensi kerja sama," tutupnya.
Penandatanganan Kerja Sama
Sebagai informasi tambahan, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Kalingga Makmur Sejahtera Kabupaten Jepara dengan Gapoktan Karya Manunggal Kabupaten Rembang untuk komoditas beras. Selain itu, dilakukan pula kerja sama antardaerah di wilayah Banyumas Raya untuk komoditas cabai, beras, jagung, bawang merah, dan minyak goreng.



