Hari Air Sedunia: Pertamina Hadirkan Solusi Air Bersih dari Papua hingga Wilayah Bencana
Selama bertahun-tahun, ribuan warga Kampung Tambat di Merauke, Papua, harus bergantung pada kemurahan hati langit untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Saat hujan tak kunjung turun, mereka terpaksa menggunakan sumur manual dengan air yang berbau belerang, sebuah pilihan sulit antara rasa haus dan risiko kesehatan yang mengancam.
Kepala Kampung Tambat, Samuel Heremba, mengenang masa-masa sulit tersebut dengan penuh kesedihan. "Dulu kami sangat mengandalkan tampungan air hujan. Ada sumur, tapi airnya mengandung belerang, kurang aman untuk digunakan," tuturnya dalam keterangan tertulis pada Selasa (24/3/2026).
Transformasi Melalui Program TJSL Pertamina
Namun, kecemasan itu kini mulai mereda. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT Pertamina (Persero) telah menghadirkan sistem sumur bor lengkap dengan reservoir penampungan dan fasilitas penyaringan yang canggih. Kehadiran fasilitas ini begitu dinanti-nantikan oleh warga, bahkan sebelum seremoni peresmian dilakukan, mereka sudah berbondong-bondong membawa jerigen untuk mengambil air bersih.
"Kini masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kandungan belerang atau kesulitan air saat musim kemarau. Airnya sudah jauh lebih bersih dan penampungannya sangat cukup," ujar Samuel dengan binar syukur yang terpancar di wajahnya.
Komitmen Pertamina di Hari Air Sedunia 2026
Memperingati Hari Air Sedunia pada 22 Maret 2026, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa Pertamina pada awal tahun 2026 ini telah membangun 7 titik sumur bor yang dilengkapi fasilitas filter dan pipa aliran di Merauke serta Jayapura. Fasilitas ini kini melayani 4.585 jiwa yang sebelumnya kesulitan mengakses air layak konsumsi.
"Bagi Pertamina, inisiatif air bersih ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan upaya menjaga martabat kemanusiaan di wilayah yang paling membutuhkan. Program ini menjadi jembatan harapan agar warga di pelosok Papua hingga penyintas bencana di Sumatra bisa mulai menata hidup kembali dengan layak," tegas Baron dengan penuh keyakinan.
Kisah Serupa di Wilayah Bencana Sumatera
Kisah serupa, namun dalam balutan duka yang berbeda, dirasakan oleh para penyintas bencana di Sumatera. Di sana, banjir dan lumpur sempat merenggut akses air bersih, menyisakan keputusasaan bagi warga seperti Putera. Ia menggambarkan kondisi air yang terpaksa disaring dari parit sebagai 'air cappuccino' karena warnanya yang cokelat pekat dan tidak layak konsumsi.
Merespons kondisi darurat tersebut, Pertamina bergerak cepat dengan membangun 25 sumur baru, mereaktivasi 43 sumur warga yang terdampak, serta menyalurkan 5 juta liter air melalui truk tangki. Langkah ini menjadi napas baru bagi lebih dari 17.000 jiwa penerima manfaat di wilayah bencana.
"Sangat membantu sekali air bersih ini. Sebelumnya kami pakai air parit. Begitu bantuan air ini masuk sekitar dua minggu setelah kejadian, kami benar-benar terbantu," ungkap Yanti, salah seorang penyintas bencana Sumatra, dengan suara yang penuh haru.
Dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Program penyediaan fasilitas air bersih ini merupakan langkah nyata Pertamina dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Fokus utamanya tertuju pada:
- SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak): Memastikan akses air bersih dan sanitasi yang layak bagi semua.
- SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan): Mendorong pembangunan permukiman yang inklusif dan berkelanjutan.
- SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap bencana dan kekeringan melalui adaptasi yang tepat.
Bagi warga di Merauke, Jayapura, maupun para penyintas di Sumatera, setiap tetes air jernih yang mengalir adalah bukti nyata bahwa kepedulian Pertamina hadir melayani dengan sepenuh hati, tepat hingga ke depan pintu rumah mereka. Inisiatif ini tidak hanya mengatasi krisis air, tetapi juga membangun harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.



