IEA Lepas Cadangan Minyak Terbesar Sejarah, Respons Blokade Selat Hormuz
Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah lembaga tersebut, sebagai respons atas krisis energi global yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz. Pengumuman ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, pada Rabu (11/03), setelah pemerintah Iran mengancam akan menutup jalur laut strategis yang mengalirkan lebih dari 20% minyak global.
Langkah Darurat Kolektif 32 Negara Anggota
Sebanyak 32 negara anggota IEA, yang sebagian besar merupakan ekonomi maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia-Pasifik, sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka. Volume ini setara dengan empat hari konsumsi minyak global atau aliran normal melalui Selat Hormuz selama 20 hari. "Skala tantangan yang kita hadapi di pasar minyak benar-benar belum pernah terjadi. Karena itu, saya sangat senang negara-negara anggota IEA merespons dengan langkah darurat kolektif yang juga belum pernah dilakukan sebelumnya," ujar Birol.
Lonjakan Harga Minyak dan Serangan di Selat Hormuz
Meskipun langkah ini ditempuh, harga minyak kembali naik pada Kamis (12/03). Minyak Brent sempat melonjak lebih dari 9% dalam perdagangan di Asia, melampaui US$100 per barel, sebelum terkoreksi ke kisaran US$97,50. Lonjakan ini terjadi setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan Irak dalam beberapa jam terakhir.
Pada Rabu (11/03), tiga kapal diserang di Selat Hormuz, termasuk kapal kargo berbendera Thailand, Mayuree Naree, yang terbakar setelah terkena proyektil. Pemerintah Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Di Irak, dua kapal tanker minyak asing juga diserang di Pelabuhan Al Faw, menewaskan satu awak kapal.
Respons Amerika Serikat dan Produsen Minyak Timur Tengah
Beberapa jam setelah pernyataan IEA, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan akan melepas 172 juta barel minyak dari cadangan daruratnya sebagai bagian dari upaya internasional terkoordinasi. Pengiriman cadangan strategis AS diperkirakan mulai dilakukan pekan depan dan berlangsung sekitar 120 hari.
Sementara itu, negara-negara produsen minyak di Timur Tengah berupaya mencari alternatif menghadapi krisis. Arab Saudi meningkatkan aliran minyak melalui jaringan pipa EastWest-nya, yang menyalurkan minyak ke Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz. CEO Aramco, Amin Nasser, menyatakan pihaknya meningkatkan aliran mendekati kapasitas maksimum 7 juta barel per hari. Namun, jaringan pipa di kawasan hanya dapat mengangkut kurang dari setengah volume minyak yang biasanya melewati selat tersebut.
Dampak dan Proyeksi ke Depan
Konflik antara AS-Israel dan Iran, yang meletus pada 28 Februari, telah mendorong harga minyak dari kisaran US$60 per barel menjadi menembus US$100. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, memperingatkan bahwa Iran tidak akan mengizinkan "se-liter pun minyak" melewati Selat Hormuz menuju AS, Israel, atau sekutunya, dan mengancam harga minyak bisa mencapai US$200 per barel.
Presiden AS Donald Trump menyebut lonjakan harga minyak sebagai "harga kecil" yang harus dibayar untuk menghilangkan ancaman nuklir Iran. Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan perang akan berlanjut tanpa batas waktu hingga tujuan kampanye tercapai.
IEA mencatat, ini merupakan keenam kalinya lembaga tersebut menyetujui pelepasan terkoordinasi cadangan minyak, setelah sebelumnya dilakukan pada 1991, 2005, 2011, dan dua kali pada 2022. Negara-negara anggota IEA menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan darurat, di luar sekitar 600 juta barel yang disimpan industri minyak untuk kewajiban hukum.
