Ibas Tegaskan Peran Negara Kunci Hadapi Geopolitik dan Jaga Kedaulatan Energi
Ibas: Peran Negara Kunci Hadapi Geopolitik dan Kedaulatan Energi

Ibas Soroti Dampak Geopolitik Global pada Ketahanan Energi Indonesia

Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono yang akrab disapa Ibas, secara tegas menyatakan bahwa penguatan peran negara merupakan kunci utama dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin memanas. Dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Penguatan Peran Negara dalam Tata Kelola Sektor Migas Nasional" yang digelar di Kompleks DPR RI Jakarta pada 13 April 2026, politisi Partai Demokrat ini menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan energi nasional tetap stabil di tengah berbagai tekanan dunia internasional.

Konflik Global Ganggu Rantai Pasok Energi

Ibas menjelaskan bahwa konflik-konflik global yang terjadi, mulai dari kawasan Timur Tengah hingga Eropa Timur, telah memberikan dampak langsung dan signifikan terhadap rantai pasok energi dunia. Jalur strategis seperti Selat Hormuz menjadi titik krusial, mengingat sekitar 25 persen distribusi energi global melewati wilayah tersebut. "Kondisi ini tidak hanya memicu tekanan pada harga energi, tetapi juga mendorong inflasi yang dirasakan hampir di seluruh negara, termasuk Indonesia," ujar Ibas dalam paparannya pada Kamis, 16 April 2026.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum Fraksi Partai Demokrat ini mengingatkan bahwa ketidakstabilan energi global memiliki efek domino yang luas. Dampaknya tidak terbatas pada sektor energi saja, tetapi merambat ke berbagai sektor vital lainnya seperti pangan, logistik, dan bahkan beban fiskal negara. "Energi bukan hanya soal Bahan Bakar Minyak (BBM), tetapi juga menyangkut Liquefied Petroleum Gas (LPG), distribusi pangan, hingga biaya hidup masyarakat sehari-hari," tegasnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pentingnya Peran Negara Berdasarkan Konstitusi

Mengacu pada Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, Ibas menegaskan bahwa negara tidak boleh hanya berperan sebagai regulator semata. Negara harus hadir secara aktif sebagai pelindung, pengarah, dan pengelola sumber daya alam yang dimiliki bangsa. "Tanpa peran negara yang kuat dan efektif, ketimpangan sosial dan ekonomi dapat terjadi dengan mudah," ungkapnya.

Ia juga mengutip pandangan para ekonom dunia yang menyatakan bahwa pasar tanpa regulasi yang tepat justru akan melahirkan ketimpangan yang semakin dalam. Oleh karena itu, kedaulatan negara dalam menentukan posisinya dalam perdagangan global menjadi hal yang sangat krusial. Ibas mendorong agar kebijakan energi nasional tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga harus memperhatikan perlindungan sosial masyarakat melalui bantalan ekonomi yang tepat sasaran dan berkelanjutan.

Lima Fokus Strategis untuk Masa Depan

Dalam kesempatan tersebut, Ibas memberikan catatan penting mengenai sejumlah fokus utama yang harus menjadi langkah strategis ke depan untuk sektor energi Indonesia:

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga
  1. Optimalisasi Produksi Migas Nasional: Produksi migas nasional saat ini dinilai belum optimal dan perlu didorong melalui investasi serta eksplorasi yang lebih agresif dan inovatif.
  2. Subsidi yang Tepat Sasaran: Perlu evaluasi menyeluruh terhadap nilai ekonomi harga BBM dan mekanisme subsidi agar kebijakan ini tidak menimbulkan distorsi pasar maupun kelangkaan di tingkat masyarakat.
  3. Penguatan BUMN Energi: Memperkuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi dengan harapan perusahaan energi nasional dapat menjadi pemain utama yang kuat dan kompetitif di kancah global.
  4. Cadangan Energi Nasional: Membangun cadangan energi nasional yang tangguh dengan menekankan pentingnya ketahanan cadangan energi di tengah meningkatnya kebutuhan domestik yang signifikan.
  5. Percepatan Transisi Energi: Bersama-sama mengawal percepatan transisi energi, termasuk pengembangan energi baru terbarukan seperti panas bumi, tenaga surya, dan energi air yang lebih ramah lingkungan.

Diskusi kelompok terfokus ini dihadiri oleh berbagai pihak dari Fraksi Partai Demokrat dan diselenggarakan sebagai upaya untuk mencari solusi konkret dalam menghadapi tantangan geopolitik yang berdampak pada sektor energi nasional. Ibas menegaskan bahwa pembahasan mengenai migas saat ini tidak dapat dilepaskan dari situasi global yang penuh ketidakpastian. "Hari ini kita ingin berbicara tentang migas, yang sesungguhnya kita sedang berbicara tentang ketahanan bangsa kita secara keseluruhan," pungkasnya menutup paparan.