BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jateng Lebih Panjang, Ada yang 9 Bulan
BMKG: Musim Kemarau 2026 di Jateng Lebih Panjang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait musim kemarau 2026 di Jawa Tengah. Berdasarkan analisis terbaru, sejumlah wilayah di provinsi ini diperkirakan akan menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis. Bahkan, ada titik-titik tertentu yang berpotensi mengalami masa kering hingga sembilan bulan lamanya. Fenomena ini menuntut kewaspadaan ekstra terhadap potensi kekeringan dan ketersediaan air bersih di wilayah terdampak.

Durasi Musim Kemarau 2026

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengungkapkan bahwa secara umum panjang musim kemarau di tahun ini berkisar antara 16 hingga 18 dasarian, atau setara dengan lima sampai enam bulan. Namun, beberapa daerah diprediksi mengalami kemarau lebih lama, bahkan mencapai sembilan bulan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti anomali iklim dan perubahan pola curah hujan.

Wilayah yang Terdampak

BMKG mengidentifikasi beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah yang berisiko tinggi mengalami kekeringan panjang. Wilayah-wilayah tersebut antara lain berada di bagian timur dan selatan Jawa Tengah, seperti Grobogan, Blora, Rembang, dan sebagian daerah di pesisir utara. Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah-langkah antisipasi, seperti menampung air hujan dan menggunakan air secara bijak.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak dan Antisipasi

Musim kemarau yang lebih panjang berpotensi menyebabkan krisis air bersih, gagal panen, dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah daerah bersama BMKG terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan memberikan rekomendasi kepada petani untuk menyesuaikan jadwal tanam. Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan guna mencegah kebakaran yang meluas.

BMKG juga mengingatkan bahwa meskipun musim kemarau diprediksi lebih panjang, masih ada kemungkinan terjadinya hujan sporadis. Oleh karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang di daerah yang memiliki topografi curam.

Dengan informasi ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat mengambil langkah mitigasi yang tepat untuk mengurangi dampak buruk musim kemarau 2026 di Jawa Tengah.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga