Indonesia Siap Beli Minyak Mentah dari Rusia, Pertahankan Kerja Sama dengan AS
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan kesiapan Indonesia untuk membeli minyak mentah dari Rusia guna memenuhi kebutuhan dalam negeri yang mencapai 300 juta barel per tahun. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (16/4/2026), setelah beliau dipanggil menghadap Presiden Prabowo Subianto.
Politik Bebas Aktif Jadi Landasan Utama
Bahlil menekankan bahwa keputusan ini selaras dengan prinsip politik bebas aktif yang dianut Indonesia, yang juga mencakup sektor ekonomi. "Pemerintah Indonesia selalu mengedepankan politik bebas aktif, dan dalam politik bebas aktif itu juga ada ekonomi bebas aktif," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Indonesia dapat melakukan pembelian dan kerja sama dengan berbagai negara selama mengikuti perjanjian yang ada dan menguntungkan bagi bangsa.
Menurut Bahlil, kerja sama dengan Rusia tidak akan mengganggu hubungan dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain. "Termasuk Rusia, kemudian Afrika, Nigeria, dan lebih khusus yang kita hargai juga adalah perjanjian kita dengan Amerika," imbuhnya. Pendekatan ini, kata dia, bertujuan untuk memastikan keuntungan maksimal bagi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Kebutuhan Impor Minyak Capai 1 Juta Barel per Hari
Data yang diungkapkan Bahlil menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan impor minyak Indonesia. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak dalam negeri hanya 600.000 barel per hari. Artinya, Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak setiap harinya untuk memenuhi permintaan domestik.
Kondisi ini diperparah oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian pasokan energi global. "Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber, tidak hanya dari satu negara tapi di hampir semua negara," jelas Bahlil. Diversifikasi sumber impor dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Rusia Siap Bantu Infrastruktur dan Pasok LPG
Selain pasokan minyak mentah, Bahlil mengungkapkan bahwa Rusia juga siap membangun infrastruktur penting untuk meningkatkan cadangan dan ketahanan energi Indonesia. Kerja sama ini mencakup dukungan dalam memenuhi kebutuhan liquefied petroleum gas (LPG), yang impornya mencapai sekitar 7 juta ton per tahun.
"Kita tahu bahwa LPG kita kurang lebih sekitar 7 juta ton setiap tahun kita impor, dan sekarang kita lakukan diversifikasi. Insya Allah kita juga akan mendapat support," ujar Bahlil. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada sumber impor tunggal dan memperkuat stok energi dalam negeri.
Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi dan menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat, sambil tetap menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif.



