Titi Permata Ajarkan Disiplin Membatik pada Anak-anak di Borobudur
Pada suatu siang yang cerah di bulan September 2024, di pelataran Bhumi Atsanti yang terletak di kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah, suasana belajar yang serius namun penuh keceriaan terpancar. Titi Permata Puspawati Hartoko, dengan penuh perhatian, berdiri di tengah-tengah sekelompok anak-anak yang sedang asyik mempelajari seni membatik.
Canthing di tangannya bergerak dengan hati-hati dan perlahan, menorehkan cairan malam ke atas selembar kain putih berukuran kecil. Tatapannya sangat fokus, menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap proses yang sedang diajarkannya. Sesekali, ia membetulkan posisi tangan anak-anak, mengingatkan mereka untuk tetap rileks dan menempatkan canthing dengan tepat agar lilin tidak tumpah dan hasilnya maksimal.
Disiplin sebagai Kunci Utama dalam Pembelajaran
Bagi Titi Permata, disiplin adalah kunci fundamental dalam mempelajari segala hal, termasuk seni membatik yang membutuhkan ketelitian tinggi. Tidak ada senyum terlihat ketika ia memegang canthing, karena ia ingin menekankan pentingnya konsentrasi dan ketepatan dalam setiap gerakan. Namun, suasana berubah drastis begitu canthing diletakkan.
Wajahnya langsung berubah menjadi ceria, dengan tawa lepas yang mengalir natural. Bahkan, tubuhnya ikut menari kecil dengan lincah, meskipun mengenakan kebaya kutu baru berwarna ungu yang mungkin terasa panas di bawah terik Matahari yang menyengat pada siang itu. Kegembiraan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang disiplin tidak harus kaku, tetapi bisa dilakukan dengan penuh sukacita.
Kehadiran Titi Permata di Bhumi Atsanti, Borobudur, ini bukan sekadar aktivitas biasa. Ia merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya tradisional Indonesia, khususnya seni membatik yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Dengan mengajar anak-anak, ia berharap dapat menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini, sekaligus mengembangkan keterampilan yang suatu hari nanti bisa menjadi sumber penghidupan.
Lokasi Bhumi Atsanti yang berada di dekat Candi Borobudur, salah satu situs warisan dunia, menambah makna dalam kegiatan ini. Ini adalah simbol harmoni antara warisan budaya masa lalu dengan upaya pelestarian untuk generasi mendatang. Anak-anak yang belajar di sini tidak hanya mendapatkan ilmu membatik, tetapi juga pengalaman langsung di lingkungan yang kaya akan sejarah dan tradisi.
Kegiatan ini juga mencerminkan semangat gotong royong dan pendidikan non-formal yang semakin berkembang di Indonesia. Dengan pendekatan yang tegas namun menyenangkan, Titi Permata berhasil menciptakan atmosfer belajar yang efektif dan menginspirasi. Harapannya, anak-anak ini akan tumbuh menjadi generasi yang bangga dengan budaya lokal dan mampu melanjutkan tradisi membatik dengan penuh kreativitas.



