Makam Karangkajen: Simbol Persatuan NU-Muhammadiyah Tanpa Nama Pahlawan
Makam Karangkajen: Persatuan NU-Muhammadiyah Tanpa Nama

Makam Karangkajen di Yogyakarta bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Kompleks pemakaman Islam yang terletak di Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta ini menyimpan cerita heroisme, ketauhidan, dan simbol persatuan antarorganisasi massa Islam, khususnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

Pahlawan Tanpa Nama di Makam Karangkajen

Di antara jajaran nisan para ulama, terdapat klaster makam pejuang kemerdekaan yang tidak dilengkapi papan nama. Mereka adalah para pahlawan muda dan veteran perang 1945, termasuk Aris Munandar, Pahlawan Muda Ampera. Juru Kunci Makam Karangkajen, Nur Samhudi (63), mengungkapkan bahwa ketiadaan nama tersebut merupakan keputusan sadar keluarga untuk menjaga kemurnian niat dan tauhid. "Di sini banyak juga yang tidak pakai nama. Ada yang dari keluarganya supaya ahli warisnya itu tidak mau dipuja-puja atau bagaimana katanya. Artinya itu kan veteran gitu. Kan di sini ada yang pakai bendera-bendera di makamnya, itu penandanya," tutur Nur.

Ornamen bambu runcing dengan bendera Merah Putih kecil menjadi penanda makam para pejuang. Tradisi ini mencerminkan semangat juang warga Karangkajen yang telah mengakar sejak masa KH Ahmad Dahlan berdakwah memurnikan Islam. Wilayah ini dihuni oleh saudagar batik militan yang mendukung penuh pergerakan Muhammadiyah. Ikatan emosional inilah yang mendasari permintaan KH Ahmad Dahlan untuk dimakamkan di Karangkajen.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Jembatan Silaturahmi Dua Ormas Besar

Sejak Nur Samhudi menjadi juru kunci pada 2015, Makam Karangkajen berkembang menjadi ruang kultural yang merekatkan persatuan umat. Kompleks yang historis lekat dengan Muhammadiyah kini rutin dikunjungi peziarah dari berbagai organisasi, termasuk NU. Rombongan dari Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, hingga Banten datang untuk mendoakan para tokoh yang dimakamkan di sini.

Nur mengenang momen haru saat menerima rombongan besar warga NU dari Jawa Timur menggunakan lima bus. "Jadi waktu itu kan memang Muhammadiyah saja, tapi setelah saya jadi juru kunci itu, banyak yang datang warga NU. Ada juga 5 bus dari Surabaya yang merupakan warga NU, yang mereka ingin menyatukan," kenang Nur.

Menurut Nur, kedatangan lintas organisasi ini adalah kewajaran sejarah. Para tokoh di Karangkajen, seperti KH Ahmad Dahlan, telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional yang sumbangsihnya melampaui sekat kelompok. Secara silsilah, pendiri Muhammadiyah dan NU, KH Hasyim Asy'ari, berguru pada guru yang sama di Mekah. "Waktu itu saya setelah bertemu dengan pengurus di sini menjelaskan, itu kan sudah Pahlawan Nasional seperti KH Ahmad Dahlan ini, dan tokoh-tokoh yang dimakamkan di sini, nah kalau Pahlawan Nasional kan istilahnya milik seluruh umat. Itu kan sejarahnya, KH Ahmad Dahlan dengan NU sendiri masih satu perguruan, lah setelahnya kok bisa berbeda. Tapi sekarang sudah bebas siapapun bisa datang ke sini untuk mengetahui sejarah," jelasnya penuh semangat.

Simbol Persatuan dan Pesan Bijak

Simbol persatuan dua ormas besar itu terlihat dari dimakamkannya tokoh NU, mantan Menteri Agama Fathurahman Kafrawi, di kompleks yang sama. Nur Samhudi, yang juga abdi dalem Keraton, menitipkan pesan bijak: berziarah ke makam ulama dan pejuang bukanlah mencari keajaiban instan, melainkan pengingat kematian dan sarana meneladani ketulusan para pendahulu. "Soal ziarah itu kan sebenarnya balik lagi, tergantung niat. Kan ada kunjungan-kunjungan ziarah itu yang mencari barokah, istilahnya niatnya berbeda gitu. Tapi selama niat kita baik, Insyaallah ziarahnya juga baik," pungkas Nur.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga