Teladan Kepemimpinan Try Sutrisno Jadi Inspirasi BPIP Perkuat Nasionalisme di Era Digital
Jakarta - Memperingati 40 hari wafatnya Wakil Presiden keenam Republik Indonesia, Try Sutrisno, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengangkat kembali nilai-nilai keteladanan beliau dalam program dialog bertajuk "KIBAR (Kupas Kebijakan Arah Pembangunan Rakyat)". Dialog yang mengusung tema "Membangun Nasionalisme di Era Digital: Refleksi Kepemimpinan Try Sutrisno" ini menegaskan relevansi sosok Try Sutrisno dalam menjawab tantangan kebangsaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Nilai-Nilai Utama yang Diwariskan Try Sutrisno
Sekretaris Utama BPIP, Tonny Agung Arifianto, sebagai pembicara utama dalam dialog tersebut, menyoroti bahwa Try Sutrisno selalu menanamkan prinsip bahwa keberhasilan seseorang tidak diukur dari jabatan atau kekayaan, melainkan dari sejauh mana ia mampu mengemban amanah dan memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. "Beliau merupakan teladan kepemimpinan yang relevan, terutama dalam konteks nasionalisme di era digital saat ini," ujar Tonny.
Menurutnya, nilai-nilai utama yang diwariskan Try Sutrisno, seperti kejujuran, disiplin, integritas, dan tanggung jawab, menjadi fondasi krusial dalam membangun karakter bangsa. Hal ini terutama penting bagi generasi muda yang hidup di tengah derasnya arus digitalisasi, di mana pengaruh informasi tanpa batas dapat mengikis jati diri kebangsaan.
Tantangan Nasionalisme di Era Digital dan Strategi BPIP
Tonny menjelaskan bahwa tantangan terhadap nasionalisme di era digital semakin kompleks. Arus informasi yang cepat dan tanpa batas berpotensi memengaruhi pola pikir, sikap, hingga moral generasi muda. "Kita tidak bisa membendung arus informasi. Yang harus kita lakukan adalah memperkuat karakter dan literasi digital agar generasi muda tidak kehilangan jati diri kebangsaannya," tegasnya.
Dalam merespons hal ini, BPIP mendorong penguatan literasi digital yang berbasis pada empat pilar utama:
- Digital Skill: Kemampuan teknis dalam menggunakan teknologi.
- Digital Ethics: Etika dalam berinteraksi di ruang digital.
- Digital Safety: Keamanan dalam aktivitas online.
- Digital Culture: Budaya yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila.
Khusus pada aspek digital culture, Tonny menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan dalam berinteraksi di ruang digital. "Teladan Pak Try Sutrisno mengajarkan bahwa nasionalisme tidak berhenti pada simbol, tetapi tercermin dalam sikap, etika, dan tanggung jawab. Ini yang harus kita bawa ke ruang digital," jelasnya.
Upaya Konkret BPIP dalam Memperkuat Pendidikan Pancasila
Sebagai bagian dari upaya strategis, BPIP telah menjalankan berbagai program, termasuk penyusunan Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila untuk jenjang PAUD hingga perguruan tinggi. Buku ini dirancang dengan pendekatan 30 persen kognitif dan 70 persen praktik (afektif dan psikomotorik) untuk memastikan pemahaman yang utuh dan aplikatif.
Selain itu, BPIP aktif melakukan sosialisasi melalui program goes to school dan goes to campus, serta berkolaborasi dengan kreator digital dan influencer untuk menjangkau generasi muda secara lebih efektif. "Refleksi atas kepemimpinan Try Sutrisno mengingatkan kita bahwa membangun bangsa harus dimulai dari pembentukan karakter. Bangunlah jiwanya terlebih dahulu, baru raganya," tambah Tonny.
Ajakan untuk Meneruskan Warisan Nilai Kebangsaan
Menutup pernyataannya, Tonny mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan momentum 40 hari berpulangnya Try Sutrisno sebagai refleksi bersama dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan. "Mari kita lanjutkan warisan nilai beliau dengan menjadi generasi yang berintegritas, bijak dalam bermedia sosial, dan berkomitmen menjaga Pancasila dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya. Dialog ini diharapkan dapat menginspirasi langkah-langkah nyata dalam membangun nasionalisme yang tangguh di era digital.



