Telkomsel Buka Fakta Potensi Kenaikan Tarif Internet Akibat Kebijakan Rollover
Telkomsel Buka Fakta Potensi Kenaikan Tarif Internet

Telkomsel Buka Fakta Potensi Kenaikan Tarif Internet Akibat Kebijakan Rollover

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan bahwa penerapan kebijakan rollover atau akumulasi kuota data berpotensi meningkatkan tarif layanan internet di Indonesia. Menanggapi hal ini, operator seluler Telkomsel secara terbuka mengungkapkan fakta-fakta yang mendasari pernyataan tersebut.

Benchmarking dari Negara Lain

Abdullah Fahmi, VP Corporate Communications, Social & Responsibility Telkomsel, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kajian terhadap sejumlah negara yang telah memberlakukan rollover, dampaknya justru membuat biaya layanan menjadi semakin mahal. "Kalau kita benchmarking di negara yang melakukan rollover, contohnya Singapura, itu harganya tinggi," ungkap Fahmi dalam pertemuan di Telkomsel Smart Office, Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Ia menambahkan bahwa pihaknya masih melakukan kajian mendalam untuk memberikan masukan yang konstruktif. "Kita juga mau kaji, kita kasih feedback karena kan ini MK juga masih bergulir ya. Kita kaji kalau misalnya memang akan diberlakukan rollover akan impact terhadap pelanggan dan impact juga terhadap di semua operator," jelasnya lebih lanjut.

Tarif Indonesia Termasuk Terendah

Menurut Fahmi, kondisi tarif layanan data di Indonesia saat ini tergolong paling rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara lain yang telah menerapkan skema rollover secara penuh. "Kita adalah yang the lowest tarif sekarang di-compare dengan beberapa negara yang melakukan rollover," tegasnya.

Fahmi juga mengungkapkan bahwa Telkomsel sebenarnya pernah menghadirkan produk rollover sebelumnya. Namun, operator ini lebih memilih untuk menawarkan berbagai paket data yang telah disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pelanggan.

Paket Data yang Disesuaikan Kebutuhan

"Kenapa kita come up dengan beberapa paket? Sebenarnya kan kita sudah slicing ke butuhan pelanggan. Kalau saya butuhnya 3 GB seminggu, dia butuhnya 10 GB sehingga kita memberikan offering package-nya seperti itu," papar Fahmi mengenai strategi penawaran paket data Telkomsel.

Bagi pelanggan yang merasa membeli kuota berlebihan, Telkomsel telah menyediakan solusi alternatif. "Nah bagi yang memang kelebihan membeli, seperti case yang sekarang, itu sebenarnya kelebihan, dia tidak butuh, tapi dia mau beli banyak. Itu pun kita kasih solusi. Kita ada produk rollover yang bisa dibeli," kata Fahmi.

Regulasi Paket Data Berbasis Waktu

Terkait perdebatan kuota internet yang hangus, Fahmi menekankan bahwa secara regulasi, paket data merupakan produk yang berbasis waktu (time-based). Ia memberikan analogi yang mudah dipahami: "Paket pulsa itu tidak sama dengan token listrik karena ini secara legal, secara regulasi, paket yang berbatas waktu. Seperti minum obat. Apalagi obat batuk ada expired date-nya. Padahal saya belum pernah minum obat itu," jelasnya.

Sikap Wait and See

Untuk saat ini, Telkomsel memilih untuk bersikap wait and see sambil menunggu putusan resmi dari Mahkamah Konstitusi (MK) serta arahan lebih lanjut dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Gugatan mengenai kuota internet yang hangus saat ini masih bergulir di MK.

"Mungkin sekarang masih di ranahnya Komdigi dululah. Tapi intinya kami patuh terhadap hukum perundang-undangan serta regulasi yang berlaku," tegas Fahmi menutup pernyataannya.

Sebagai informasi tambahan, Telkomsel baru saja meraih Anugerah Pertumbuhan Ekonomi & Ekosistem Digital dalam Detikcom Awards 2025, yang menunjukkan komitmen perusahaan dalam mendukung perkembangan digital di Indonesia.