Perang Iran-Israel-AS Ancam Industri Telekomunikasi, Tarif Internet Berpotensi Naik
Konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan tekanan signifikan pada berbagai sektor ekonomi global, termasuk industri telekomunikasi. Meskipun dampaknya belum terasa langsung terhadap operator seluler di Indonesia, situasi yang terus memanas dapat berujung pada kenaikan tarif internet bagi konsumen.
Stabilitas Sementara di Tengah Gejolak Global
Director & Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, mengungkapkan bahwa hingga saat ini industri telekomunikasi nasional masih relatif stabil meskipun terjadi ketegangan geopolitik tersebut. "Selama ini sih mudah-mudahan tidak ada apa-apa. Kita tentu berharap perang ini segera berhenti," ujar Merza dalam pertemuan di XLSmart Tower, Jakarta, pada 13 Maret 2026.
Merza menegaskan bahwa operator telekomunikasi di Indonesia belum merasakan dampak langsung dari konflik tersebut terhadap operasional jaringan maupun layanan kepada pelanggan. Namun, ia memberikan peringatan serius mengenai potensi dampak jangka panjang jika konflik terus berkepanjangan.
Ancaman dari Fluktuasi Nilai Tukar Mata Uang
Menurut Merza, jika konflik berlarut-larut dan memicu gejolak ekonomi global, dampaknya dapat mulai terasa melalui fluktuasi nilai tukar mata uang. Hal ini menjadi perhatian kritis karena sebagian besar investasi industri telekomunikasi masih bergantung pada komponen impor yang dibeli menggunakan valuta asing.
"Kalau situasi seperti ini terus berlangsung, biasanya nilai valuta naik. Sementara investasi telekomunikasi hampir semuanya menggunakan valuta asing, karena perangkat jaringan masih banyak yang impor," jelas Merza.
Kenaikan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya investasi operator secara signifikan, mulai dari pembelian perangkat jaringan hingga pengembangan infrastruktur telekomunikasi. Kondisi ini dalam jangka panjang dapat memberikan tekanan berat pada struktur biaya industri, yang pada akhirnya mungkin diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan tarif.
Dampak pada Daya Beli Masyarakat
Selain ancaman terhadap biaya operasional, gejolak ekonomi global juga berpotensi mempengaruhi daya beli masyarakat. Merza mengingatkan bahwa jika daya beli menurun, konsumsi layanan telekomunikasi bisa ikut terdampak secara signifikan.
"Kita pernah mengalami masa-masa seperti itu. Kalau krisis terjadi, harga BBM naik, harga pangan mahal, semua naik. Dalam kondisi seperti itu orang tentu akan memilih kebutuhan pokok dulu," ungkapnya.
Dalam situasi ekonomi yang tertekan, masyarakat biasanya lebih memprioritaskan kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tinggal dibandingkan pengeluaran lain, termasuk layanan telekomunikasi. "Orang akan memilih mana yang lebih penting, beli beras atau beli pulsa. Tentu kebutuhan perut yang utama," tambah Merza.
Harapan untuk Penyelesaian Damai
Merza berharap konflik geopolitik tidak berkepanjangan sehingga tidak memicu gejolak ekonomi yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya stabilitas global untuk menjaga keberlanjutan industri telekomunikasi dan daya beli masyarakat.
Industri telekomunikasi Indonesia, yang telah berinvestasi besar dalam pengembangan jaringan 5G dan infrastruktur digital lainnya, kini menghadapi ketidakpastian akibat faktor eksternal ini. Pemantauan ketat terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan mitigasi risiko menjadi semakin krusial bagi para pemangku kepentingan di sektor ini.
