Etika Jurnalistik Batasi Penggunaan AI di Ruang Redaksi
Etika Jurnalistik Batasi Penggunaan AI di Redaksi

AI Bukan Pengganti Jurnalis

Kecerdasan buatan (AI) semakin merambah industri media, membantu proses riset, penulisan, hingga distribusi konten. Namun, praktisi media dari tvOne, Merdi Sofansyah, menegaskan bahwa penggunaan AI di ruang redaksi harus tunduk pada etika jurnalistik. Menurutnya, AI hanya berperan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, bukan untuk menggantikan jurnalis dalam mencari, memverifikasi, dan menyajikan fakta.

Prinsip Etika Jurnalistik

Merdi Sofansyah menyatakan bahwa meskipun AI dapat mempercepat kerja, tanggung jawab terhadap kebenaran informasi tetap berada di tangan jurnalis. Ia menekankan bahwa verifikasi fakta dan akurasi berita tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada mesin. "AI harus digunakan secara bijak, dengan tetap mengedepankan kode etik jurnalistik," ujarnya.

Dampak pada Industri Media

Pemanfaatan AI yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan berita palsu atau bias. Oleh karena itu, redaksi perlu menetapkan batasan yang jelas. Merdi menambahkan bahwa pelatihan etika AI bagi jurnalis menjadi penting agar teknologi ini tidak disalahgunakan. Dengan demikian, AI dapat menjadi mitra yang memperkuat, bukan melemahkan, integritas jurnalisme.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga
Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram