Menteri Keuangan Purbaya Jadi Sasaran Video Deepfake AI, Suara dan Wajah Dipalsukan
Purbaya Sasaran Video Deepfake AI, Suara dan Wajah Dipalsukan

Menteri Keuangan Purbaya Jadi Sasaran Video Deepfake AI, Suara dan Wajah Dipalsukan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi target serangan disinformasi yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara canggih. Di berbagai platform media sosial, beredar video yang menampilkan sosok Purbaya menyampaikan pernyataan terkait berbagai isu nasional, termasuk topik sensitif seperti pemberantasan mafia korupsi.

Konten Hasil Manipulasi AI yang Sulit Dikenali

Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam oleh tim verifikasi, terungkap bahwa video-video tersebut merupakan hasil manipulasi AI atau yang dikenal sebagai deepfake. Teknologi ini mampu menciptakan rekaman audio dan visual yang sangat realistis, sehingga sulit dibedakan dari konten asli oleh mata dan telinga awam.

Misalnya, dalam salah satu video yang viral, Purbaya terlihat dan terdengar meminta dukungan dari masyarakat untuk memberantas praktik korupsi yang dilakukan oleh mafia. Namun, analisis teknis menunjukkan bahwa suara Purbaya dalam video tersebut sepenuhnya dibuat menggunakan AI, tanpa ada rekaman asli yang menjadi dasarnya.

Tim Cek Fakta Ungkap Beragam Disinformasi yang Menyasar Purbaya

Tim Cek Fakta Kompas.com telah melakukan verifikasi terhadap sejumlah konten disinformasi berbasis AI yang menyasar figur Purbaya Yudhi Sadewa. Investigasi ini mengungkap pola serangan yang terorganisir, dengan video deepfake dirancang untuk menyebarkan narasi palsu yang dapat memengaruhi opini publik.

Berikut adalah rangkuman temuan utama dari penyelidikan tersebut:

  • Video deepfake AI beredar luas di platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.
  • Konten tersebut memanipulasi suara dan wajah Purbaya untuk menyampaikan pesan fiktif tentang kebijakan keuangan dan isu korupsi.
  • Teknologi AI yang digunakan cukup canggih, membuat deteksi palsu menjadi tantangan bagi pengguna biasa.
  • Disinformasi ini berpotensi menimbulkan kebingungan dan merusak kredibilitas publik terhadap institusi pemerintah.

Kasus ini menyoroti urgensi literasi digital dan perlunya mekanisme verifikasi yang lebih kuat untuk melawan ancaman disinformasi di era teknologi maju. Masyarakat diimbau untuk selalu kritis dan memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikan konten serupa.