Di sebuah toko kelontong kecil di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Rini—bukan nama sebenarnya—menjalani rutinitas sebagai agen layanan transaksi keuangan. Toko sederhana di pinggir jalan itu bukan hanya tempat warga membeli kebutuhan sehari-hari, tetapi juga lokasi berbagai transaksi digital dilakukan. Sejak pagi hingga malam, warga datang silih berganti untuk tarik tunai, transfer uang, hingga mengisi saldo dompet digital atau e-wallet.
Fenomena Anak Sekolah Top Up Dompet Digital
Di antara ramainya pelanggan, ada satu hal yang belakangan menarik perhatian perempuan berusia sekitar 40 tahun tersebut, yakni anak-anak usia sekolah yang datang untuk top up saldo digital. Fenomena ini semakin marak dalam beberapa bulan terakhir. Rini mengaku kewalahan melayani permintaan anak-anak yang mayoritas masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah pertama.
Kekhawatiran Orang Tua dan Pengawasan
Para orang tua diimbau untuk lebih waspada terhadap penggunaan dompet digital oleh anak-anak. Transaksi tanpa pengawasan dapat menyebabkan pemborosan atau bahkan penyalahgunaan. Rini menambahkan bahwa beberapa anak datang dengan nominal yang cukup besar, mencapai puluhan ribu rupiah, yang mungkin berasal dari uang jajan atau tabungan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi keuangan digital perlu ditanamkan sejak dini. Orang tua diharapkan aktif mengawasi dan mendampingi anak dalam bertransaksi digital agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.



