Sikap Bahrain dan Kuwait Usai Iran Serang Fasilitas Militer AS
Sikap Bahrain dan Kuwait Usai Iran Serang Fasilitas AS

Bahrain dan Kuwait dengan tegas mengecam serangan rudal balistik dan drone yang dilancarkan Garda Revolusi Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat yang berlokasi di wilayah kedua negara. Serangan yang terjadi pada akhir pekan lalu itu dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah yang tengah berupaya meredakan ketegangan.

Serangan Balasan Iran Setelah AS Bombardir

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua pihak saling melancarkan serangan rudal. Pada Sabtu (27/6), militer AS membombardir posisi-posisi Iran untuk hari kedua berturut-turut sebagai pembalasan atas serangan Iran terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran (IRGC) kemudian membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain.

Dalam pernyataan resminya, IRGC mengklaim telah menghancurkan delapan fasilitas militer AS yang penting di Pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan di pangkalan angkatan laut Armada Kelima di Pelabuhan Salman, Bahrain. Mereka memperingatkan bahwa agresi lebih lanjut akan dibalas dengan 'tanggapan yang menghancurkan'.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kecaman Keras dari Bahrain

Kementerian Luar Negeri Bahrain segera mengeluarkan pernyataan mengecam keras serangan tersebut. Dilansir Al Jazeera, Minggu (28/6), Kementerian Luar Negeri Bahrain menyatakan bahwa serangan rudal dan drone Iran telah melanggar kedaulatan negara dan merusak "peluang untuk de-eskalasi dan stabilitas di kawasan tersebut".

Bahrain juga menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan pertemuan darurat guna membahas situasi ini. Mereka berharap langkah tersebut dapat "mengakhiri agresi yang sedang berlangsung dan meminta pertanggungjawaban para pelakunya". Pemerintah Bahrain menegaskan haknya untuk mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayahnya sesuai dengan hukum internasional, serta meminta pertanggungjawaban penuh Iran atas setiap eskalasi yang terjadi.

Kuwait: Iran Langgar Kedaulatan Secara Terang-terangan

Kuwait juga bereaksi keras. Kementerian Luar Negeri Kuwait, dalam pernyataan yang dikutip AFP, Minggu (28/6), menyampaikan "kecaman dan penolakan keras terhadap... terulangnya agresi keji Iran terhadap Negara Kuwait, yang terbaru terjadi pada subuh hari ini, sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatannya".

Kementerian tersebut memperingatkan bahwa serangan semacam itu merusak upaya de-eskalasi regional dan global yang sedang berlangsung dan "merupakan tantangan langsung terhadap kemauan internasional yang mendukung jalan ini". Kuwait menegaskan bahwa pihaknya "berhak sepenuhnya untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menjaga kedaulatannya, menjaga keamanan dan stabilitasnya, serta melindungi rakyatnya dan penduduk di wilayahnya".

Latar Belakang: Gencatan Senjata yang Runtuh

Serangan terbaru ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman damai pada pertengahan Juni di bawah mediasi Pakistan. Memorandum tersebut bertujuan untuk mengakhiri perang secara permanen. Dalam teks yang ditandatangani, kedua negara dan sekutu masing-masing menyatakan "tidak akan memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain dan akan menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan".

Namun, kesepakatan itu kini terancam ambruk. Baik AS maupun Iran saling menuduh pihak lain melanggar gencatan senjata. Tuduhan ini memperketat negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa upaya mengubah aturan soal Selat Hormuz bakal meningkatkan ketegangan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga