10 Orang Terkaya Indonesia: Prajogo Pangestu Masuk 5 Besar
10 Orang Terkaya Indonesia: Prajogo Pangestu Masuk 5 Besar

KOMPAS.com - Salah satu artikel populer kanal Tren sepanjang Selasa (30/6/2026) hingga Rabu (1/7/2026) pagi adalah daftar 10 orang terkaya Indonesia. Dalam daftar itu, Prajogo Pangestu masih duduk di 5 besar meski tak berada di posisi teratas.

Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia

Artikel tersebut menyajikan daftar 10 orang terkaya Indonesia versi terkini. Prajogo Pangestu, pendiri Barito Pacific, berhasil mempertahankan posisinya di lima besar. Meskipun tidak menjadi yang teratas, namanya tetap masuk dalam jajaran elit orang terkaya di Indonesia.

Daftar ini menjadi sorotan karena mencerminkan dinamika kekayaan di Indonesia. Beberapa nama baru mungkin muncul, sementara nama lama bertahan. Publik antusias melihat perubahan peringkat setiap tahunnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Budaya Tip di AS Dikeluhkan Suporter Piala Dunia 2026

Populer kanal Tren berikutnya adalah soal budaya tip di Amerika Serikat (AS) yang dikeluhkan oleh suporter Piala Dunia 2026. Banyak suporter yang mengeluhkan kewajiban memberi tip di berbagai tempat, seperti restoran, hotel, dan transportasi.

Menurut seorang suporter asal Indonesia, Budi Santoso, "Kami terkejut dengan budaya tip di sini. Di restoran, kami harus memberi tip 15-20 persen dari total tagihan. Ini cukup memberatkan, terutama bagi suporter yang datang dari negara dengan budaya tip yang berbeda."

Budaya tip di AS memang sudah menjadi kebiasaan. Namun, bagi wisatawan asing, hal ini seringkali membingungkan dan dirasa memberatkan. Suporter Piala Dunia 2026 yang datang dari berbagai negara mengeluhkan hal ini di media sosial.

Dampak Budaya Tip bagi Wisatawan

Budaya tip yang tinggi di AS dapat mempengaruhi pengalaman wisatawan. Banyak yang merasa terbebani dengan kewajiban memberi tip, terutama jika pelayanan yang diberikan tidak memuaskan. Beberapa suporter bahkan mengaku mengurangi frekuensi makan di restoran untuk menghindari biaya tambahan.

Selain itu, kebingungan tentang besaran tip yang tepat juga menjadi masalah. Tidak ada aturan baku, sehingga wisatawan sering kali memberi tip terlalu sedikit atau terlalu banyak. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan baik bagi wisatawan maupun pekerja di industri jasa.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga