Sejarah Sebulan Partai Kecoak di India, dari Satire Jadi Gerakan Massa
Sejarah Partai Kecoak di India, dari Satire ke Aksi Massa

Jakarta - Gerakan satire yang dikenal dengan nama 'Cockroach Janta Party' (CJP) atau Partai Kecoak di India telah genap berusia satu bulan sejak didirikan pada Mei 2026. Awalnya hanya sebagai lelucon, kini gerakan ini berhasil memobilisasi massa untuk turun ke jalan menuntut pengunduran diri seorang menteri.

Latar Belakang Lahirnya Partai Kecoak

Dilansir dari Al-Jazeera pada Selasa (16/6/2026), Partai Kecoak dianggap oleh kalangan anak muda India sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi mereka. Salah seorang yang terdampak adalah Ayush Shimpi (20), pemuda dari distrik suku Gadchiroli di Maharashtra, India Barat.

Shimpi termasuk salah satu korban pembatalan ujian masuk kedokteran melalui National Eligibility cum Entrance Test (NEET). Setelah mempersiapkan diri selama dua tahun, ia harus menerima kenyataan pahit ketika pemerintah mengumumkan bahwa ujian NEET dibatalkan karena dugaan kebocoran soal dan akan diulang pada 21 Juni 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Di tengah kemarahan itulah, Shimpi menemukan Partai Kecoak atau CJP di media sosial. Gerakan ini bermula dari pernyataan kontroversial Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang dinilai membandingkan anak muda pengangguran dengan kecoak.

"Ada anak-anak muda, seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan dan tidak memiliki tempat dalam profesi apa pun," ujar hakim tersebut. "Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa aktif media sosial, dan beberapa menjadi aktivis RTI."

Dari Satire Menjadi Gerakan Nyata

Pernyataan Kant memicu seorang mahasiswa India di Boston University, Abhijeet Dipke, untuk menciptakan gerakan 'Bagaimana jika semua kecoak bersatu?'. Ide ini ternyata mendapat sambutan luas dari anak muda India.

Pada 16 Mei 2026, Dipke secara resmi meluncurkan CJP. Gerakan ini dianggap sebagai sindiran halus terhadap partai berkuasa pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, yaitu Partai Bharatiya Janata (BJP). Dipke kemudian kembali ke India pada 6 Juni 2026.

Sesampainya di India, ia langsung menuju kawasan Jantar Mantar di New Delhi, tempat CJP menggelar aksi unjuk rasa perdananya. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Federal, Dharmendra Pradhan, atas dugaan kegagalan mencegah kebocoran soal ujian dan penyimpangan lain dalam ujian-ujian penting bagi kaum muda.

Respons dan Tantangan

Meskipun demikian, ada yang menilai unjuk rasa di New Delhi sebagai 'sedikit antiklimaks' karena hanya dihadiri kurang dari 2.000 orang. Dalam demo itu, Dipke mendesak Pradhan untuk mengundurkan diri paling lambat pukul 17.00 pada hari yang sama.

"Namun, ini tidak berakhir di sini. Dharmendra Pradhan telah merugikan seluruh generasi. Jika ia tidak dicopot atau tidak mengundurkan diri dalam tujuh hari ke depan, kami terpaksa akan melanjutkan aksi protes kami di lapangan," tulis Dipke di platform X pada 7 Juni.

Saurav Das, jubir CJP, mengatakan aksi unjuk rasa di New Delhi berhasil menarik perhatian. Ia mengakui bahwa CJP yang bukan organisasi resmi dan baru sebulan berdiri telah mampu menggerakkan massa.

"Ada banyak tantangan dalam menggerakkan orang di lapangan. Kami bukan organisasi terdaftar atau serikat pekerja. Untuk memiliki struktur semacam itu, akan membutuhkan waktu. Begitu kami memilikinya, menggerakkan orang juga akan lebih mudah," jelasnya.

Aksi Lanjutan dan Dampak Media Sosial

Pekan lalu, CJP kembali menggelar demonstrasi di sebuah universitas di Pune, pusat pendidikan di Maharashtra. Tuntutan mereka tetap sama: Pradhan harus mundur.

Pune berjarak sekitar 900 km dari kampung halaman Shimpi, sehingga ia tidak bisa hadir. Namun, ia merasa suaranya telah didengar melalui aksi CJP.

"Tapi rasanya suara saya didengar. CJP mengangkat masalah-masalah kami dan menjaga demokrasi tetap hidup," kata Shimpi yang bercita-cita menjadi ahli bedah saraf.

Akun Instagram CJP telah meraih lebih dari 22 juta pengikut dalam waktu kurang dari sebulan. Video-video pendek dari berbagai aksi protes di seluruh India telah ditonton lebih dari 400 juta kali pada hari Senin.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga