Prabowo Dorong Bahasa Prancis di Sekolah, PDIP Minta Kajian Mendalam
Prabowo Dorong Bahasa Prancis, PDIP Minta Kajian

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar Bahasa Prancis diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia saat bertemu Presiden Emmanuel Macron. Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira menilai keputusan tersebut sebaiknya diserahkan kepada kurikulum sekolah.

Tanggapan PDIP

"Kalau soal selera bahasa, saya kira ya, itu biar kurikulum sekolah-sekolah yang menentukan. Jadi, jangan nanti kalau kita ketemu pemimpin dari suatu negara, terus kemudian bahasa itu menjadi kurikulum wajib," kata Andreas Hugo Pareira di Novotel Mangga Dua, Jakarta Utara, Sabtu (30/5/2026).

Andreas menilai kurikulum sekolah sudah menentukan bahasa penting apa yang harus dipelajari. Ia menekankan penguatan pembelajaran Bahasa Indonesia masih perlu dilakukan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Saya kira di kurikulum kita sudah ditentukan bahasa-bahasa apa yang penting. Prancis memang salah satu bahasa dunia. Kalau ada sekolah yang memberikan kesempatan, saya kira itu bisa saja," kata Andreas. "Tapi kalau menjadi kurikulum wajib, saya kira kita perlu bahasa Inggris, kita perlu memperkuat bahasa Indonesia, dan itu yang paling penting untuk pembinaan pendidikan, terutama pendidikan bahasa," imbuhnya.

Meski begitu, Andreas mengakui bahasa Prancis penting sebagai salah satu bahasa dunia. Ia mengatakan bahasa asing yang wajib dipelajari saat ini adalah bahasa Inggris.

"Tetapi di kurikulum pendidikan kita selama ini sudah ditetapkan bahwa bahasa Inggris adalah salah satu bahasa wajib. Silakan bahasa Prancis sebagai bahasa pilihan, bisa saja. Bahasa Mandarin, bahasa Jepang, dan bahasa lain menjadi kurikulum tambahan untuk anak-anak," ujarnya.

Pernyataan Djarot

Ketua DPP PDIP lainnya, Djarot Saiful Hidayat, menimpali jawaban Andreas. Djarot menilai tidak serta-merta jika presiden berkunjung ke suatu negara kemudian mewajibkan pendidikan bahasa tersebut di semua tingkatan sekolah.

"Terkait itu, benar, Pak Andreas tadi. Untuk masalah bahasa Prancis itu penting juga. Tapi tidak bisa serta-merta begitu presiden berkunjung ke Prancis, kemudian beliau berbicara akan mewajibkan pendidikan bahasa Prancis di semua tingkatan sekolah," kata Djarot.

Djarot memberikan contoh jika presiden berkunjung ke Afrika kemudian mengharuskan pembelajaran bahasa Afrika. Ia menilai perlu kajian mendalam untuk menentukan bahasa asing yang perlu dipelajari di semua sekolah.

"Kemudian nanti kalau misalnya beliau ke mana lagi, Afrika, begitu. Bahasa Afrika itu yang harus diajarkan. Kan tidak begitu-begitu," kata Djarot.

"Maka perlu kajian secara mendalam, bahasa-bahasa asing yang harus dikuasai oleh anak-anak kita itu apa? Yang wajib apa? Yang pilihan apa? Bolehlah yang wajib misalkan bahasa Inggris. Pilihannya bolehlah bahasa Prancis, bahasa Belanda, bahasa Mandarin, bahasa Jepang, bahasa Spanyol, bahasa Portugis," imbuhnya.

Djarot mengatakan penentuan bahasa asing sebaiknya diserahkan ke pihak sekolah dan Kementerian Pendidikan. Ia juga menyinggung pentingnya merubah pola agar tidak turun langsung dari atas.

"Serahkan itu kepada user-nya, sekolahnya, kementeriannya melakukan kajian apa yang paling penting diajarkan kepada anak-anak kita. Kita harus merubah pola supaya semuanya tidak langsung turun dari atas. Bawah ini juga harus didengarkan," ujarnya.

Instruksi Prabowo

Sebelumnya, Prabowo mengatakan sudah menginstruksikan kepada seluruh sekolah di Indonesia untuk mengajarkan Bahasa Prancis kepada siswa. Prabowo menyebut hal itu dilakukan melihat perkembangan dunia ke depan. Hal tersebut disampaikan Prabowo saat kunjungan di Istana Kepresidenan Élysée, Paris, Kamis (28/5), di hadapan Macron.

"Sekarang saya sudah menginstruksikan bahwa semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," kata Prabowo.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga