Setidaknya 1.450 orang tewas dan sekitar 3.150 lainnya luka-luka akibat dua gempa dahsyat yang mengguncang Venezuela pada Rabu, 25 Juni 2026. Lebih dari 68.900 orang masih dilaporkan hilang, sementara batas waktu kritis 72 jam untuk menyelamatkan korban yang terperangkap sudah terlewati.
Operasi Penyelamatan Terus Berlanjut
Tim penyelamat masih berjibaku mencari korban selamat di tengah reruntuhan. Setidaknya 33 orang berhasil dikeluarkan hidup-hidup dari bangunan yang runtuh selama akhir pekan, meski puluhan ribu orang masih belum ditemukan. Keberhasilan menyelamatkan seorang ayah dan anaknya di La Guaira pada Minggu, 28 Juni, menjadi secercah harapan di tengah kegelapan bencana.
"Mereka sangat lemah, seperti halnya pasien manapun yang terjebak di bawah reruntuhan selama empat hari. Kami melakukan segalanya untuk menghidrasi mereka dan memberikan berbagai obat-obatan selama proses evakuasi yang berjalan sangat lambat ini," kata salah satu anggota tim penyelamat Keamanan Sipil Prancis.
Operasi 12 jam untuk menemukan keduanya merupakan kerja sama tim penyelamat Prancis dan AS yang menggunakan kamera pencari khusus dan dengan hati-hati menyingkirkan puing-puing yang tidak stabil untuk menjangkau para korban.
Korban Terus Bertambah
Ketua Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, mengonfirmasi bahwa korban tewas kini mencapai 1.450 orang, naik dari angka sebelumnya 1.430. Ribuan orang lainnya turut menjadi korban luka dalam bencana ini. Pemerintah sementara Venezuela mengumumkan sekolah di seluruh negeri akan tetap tutup selama sepekan lagi.
Menurut perkiraan PBB, hingga tujuh juta orang mungkin terdampak oleh gempa kembar ini. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebutkan "hingga 6,76 juta orang bisa terdampak," dengan kalkulasi yang didasarkan pada data populasi dan kerusakan yang tersedia. Proyeksi tersebut mencakup hingga 2 juta orang di Caracas saja.
Dubes Jerman: Peluang Semakin Tipis
Volker Pellet, Duta Besar Jerman untuk Venezuela, berbicara kepada DW dari Caracas mengenai situasi terkini. "Ada dua realita. Ada satu realita di Caracas, kota besar dengan lebih dari 5 juta orang yang terdampak. Tapi bencana sesungguhnya terjadi di pesisir, sekitar satu jam dari sini, kota La Guaira, yang kondisinya benar-benar seperti skenario kiamat," kata Pellet.
"Ini benar-benar realita yang sama sekali berbeda. Bahkan di sepanjang pantai itu sendiri pun demikian. Ketika mendekati pemandangan mengerikan itu dari jarak beberapa kilometer, kamu melihat sangat sedikit kerusakan. Lalu tiba-tiba, dalam sekejap, segalanya hancur total. Kita perlu bertanya kepada para ahli seismik mengapa itu bisa terjadi. Ini benar-benar mengejutkan untuk dilihat. Saya sudah ke sana tadi malam," tambahnya.
Pellet juga menyoroti kondisi layanan publik yang sudah tidak optimal selama 20 tahun terakhir, yang memperparah situasi. "Ini situasi yang kacau. Saya pikir di banyak negara pun ini akan menjadi masalah besar. Tapi kalau kamu mempertimbangkan kondisi layanan publik yang sudah tidak optimal selama 20 tahun terakhir, kamu bisa membayangkan seperti apa situasinya sekarang."
Bantuan Internasional Mengalir
Uni Eropa menggelontorkan bantuan darurat senilai 5 juta euro (sekitar Rp101,5 miliar) untuk merespons bencana ini. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, pada Minggu, 28 Juni, mengatakan ia telah berbicara dengan pemimpin Venezuela Delcy Rodríguez dan menyampaikan "solidaritas penuh" UE kepada rakyat Venezuela.
"Sistem satelit Copernicus milik UE mendukung tim respons darurat dengan membantu memetakan kerusakan dan mengarahkan bantuan ke tempat yang paling membutuhkan," tambahnya. Pellet menyebut 25 negara terlibat dalam upaya bantuan, dengan sekitar 3.000 pekerja bantuan di lapangan.
Solidaritas dari Paus dan PBB
Paus Leo XIV, dalam sebuah unggahan di X, menyatakan solidaritasnya dengan "saudara-saudari Venezuela yang terdampak oleh gempa bumi yang telah merenggut banyak nyawa dan menimbulkan cedera, serta kerusakan properti yang luas." Ia mendoakan ketenangan abadi para almarhum dan menyampaikan terima kasih kepada para pekerja penyelamat.
Badan migrasi PBB, IOM, mendesak respons yang lebih besar dari komunitas internasional, dengan menegaskan bahwa kebutuhan negara itu "mendesak dan signifikan." IOM menyerukan penyediaan tempat penampungan darurat, air bersih dan sanitasi, serta layanan kesehatan.



