To Lam Resmi Dilantik Jadi Presiden Vietnam, Kekuasaan Makin Terpusat
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam, secara bulat dipilih oleh parlemen sebagai presiden negara tersebut untuk masa jabatan lima tahun. Pelantikan ini menjadikannya pemimpin Vietnam paling berkuasa dalam beberapa dekade terakhir, menandai pergeseran signifikan dalam tata kelola politik negara.
Pelantikan dan Prioritas Utama
Setelah upacara pelantikannya, Lam menyampaikan pidato di hadapan Majelis Nasional. Ia menekankan bahwa prioritas utamanya adalah menjaga perdamaian dan stabilitas, yang ia anggap sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkelanjutan. "Kami bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga semua orang dapat menikmati manfaat dari pembangunan," katanya dengan tegas.
Situs web parlemen melaporkan bahwa seluruh 495 anggota parlemen yang hadir pada sidang Majelis Nasional pada Selasa mendukung nominasi dari Partai Komunis, sementara lima anggota parlemen lainnya tidak hadir dalam proses pemilihan tersebut. Selain itu, parlemen juga akan memilih perdana menteri baru untuk menggantikan Pham Minh Chinh yang akan segera mengakhiri masa jabatannya.
Agenda Reformasi Agresif To Lam
To Lam telah mengejutkan banyak pihak dengan kecepatan reformasinya sejak memimpin partai. Dalam waktu kurang dari dua tahun, ia berhasil menyingkirkan para pesaing politiknya dan mentransformasi negara melalui agenda reformasi yang agresif. Beberapa langkah kunci yang diambil meliputi:
- Menggambar ulang peta administratif dengan menggabungkan beberapa provinsi.
- Memangkas birokrasi untuk meningkatkan efisiensi pemerintahan.
- Menghapus delapan kementerian sekaligus untuk menyederhanakan struktur pemerintahan.
- Mendorong proyek-proyek infrastruktur besar-besaran sebagai bagian dari modernisasi.
Lam kini mengusulkan "model pertumbuhan baru" yang bertujuan mempercepat pengambilan keputusan dan memperkuat sektor swasta. Targetnya adalah mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit setiap tahun selama lima tahun ke depan. Ia juga menyatakan akan memprioritaskan kemandirian dalam pertahanan nasional.
Kiprah dan Pengaruh dalam Politik Vietnam
To Lam muncul sebagai salah satu tokoh paling berkuasa dalam politik Vietnam dalam beberapa dekade terakhir. Dengan terpilih sebagai presiden sambil tetap menjabat sebagai kepala Partai Komunis, ia kini memegang kendali atas aparatus partai dan kepemimpinan negara secara bersamaan.
Le Hong Hiep, peneliti senior Program Studi Vietnam di ISEAS – Yusof Ishak Institute di Singapura, mengomentari bahwa langkah ini "secara efektif menjadikannya sebagai 'pemimpin tertinggi' Vietnam." Ia menambahkan bahwa perubahan ini telah "menggeser kepemimpinan negara dari model kolektif berbasis konsensus menuju gaya kepemimpinan terpusat ke satu figur."
Lam, yang berusia 67 tahun, membangun sebagian besar kariernya dalam lembaga keamanan negara. Sebagai menteri keamanan publik sejak 2016, ia mengawasi kepolisian dan operasi keamanan dalam negeri, serta memainkan peran penting dalam kampanye antikorupsi pemerintah. Sejak naik ke puncak kepemimpinan partai, ia bergerak cepat untuk merombak struktur politik dan administratif Vietnam.
Strategi Ekonomi dan Masa Depan
Strategi ekonomi baru yang diusulkan Lam bertujuan mempercepat pengambilan keputusan dan memperluas peran sektor swasta. Targetnya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat di salah satu ekonomi paling dinamis di Asia Tenggara. Dengan kekuasaan yang semakin terpusat, Lam diharapkan dapat menerapkan kebijakan-kebijakan transformatif untuk mencapai tujuan tersebut.
Pelantikan To Lam sebagai presiden menandai babak baru dalam politik Vietnam, dengan kekuasaan yang terkonsolidasi dan agenda reformasi yang ambisius. Masyarakat internasional akan memperhatikan bagaimana kepemimpinan terpusat ini akan memengaruhi stabilitas regional dan perkembangan ekonomi di tahun-tahun mendatang.



