PM Hungaria Viktor Orban Sebut Uni Eropa Ancaman Nyata, Bukan Rusia
Orban: Uni Eropa Ancaman Nyata, Bukan Rusia

PM Hungaria Viktor Orban Anggap Uni Eropa Sebagai Ancaman Nyata, Bukan Rusia

Dalam pidato kampanye yang mengejutkan, Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban menyatakan bahwa Uni Eropa merupakan ancaman nyata bagi negaranya, bukan Rusia. Pernyataan ini disampaikan di Budapest pada Sabtu (14/2/2026), hanya delapan minggu sebelum pemilihan nasional Hungaria yang dijadwalkan pada 12 April 2026.

Pidato Kontroversial Jelang Pemilu

Orban, yang memimpin partai nasionalis Fidesz, mengutarakan pandangannya ini kepada para pendukungnya. Dia membandingkan Uni Eropa dengan rezim Uni Soviet yang represif, yang pernah mendominasi Hungaria selama lebih dari 40 tahun. "Kita harus terbiasa dengan gagasan bahwa mereka yang mencintai kebebasan tidak perlu takut pada Timur, tetapi pada Brussel," tegas Orban, merujuk pada ibu kota de facto Uni Eropa di Belgia.

Dia menambahkan, "Menyebarkan ketakutan tentang Putin adalah hal yang primitif dan tidak serius. Namun, Brussel adalah realitas yang nyata dan sumber bahaya yang mengancam." Pernyataan ini menolak keyakinan banyak pemimpin Eropa yang menganggap Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai ancaman bagi keamanan benua tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tantangan Politik dan Hubungan dengan Uni Eropa

Orban dan Fidesz menghadapi tantangan serius dalam pemilu mendatang, dengan jajak pendapat independen menunjukkan partainya tertinggal dari partai Tisza yang berhaluan tengah-kanan, dipimpin oleh Peter Magyar. Sebagai respons, Orban meningkatkan kampanye anti-Uni Eropa, bahkan mengklaim tanpa dasar bahwa jika partainya kalah, Uni Eropa akan mengirim warga Hungaria ke kematian mereka di Ukraina.

Hubungan Hungaria dengan Uni Eropa telah lama tegang. Blok tersebut telah membekukan miliaran euro dana untuk Budapest karena kekhawatiran bahwa Orban membongkar lembaga demokrasi, mengikis independensi peradilan, dan mengawasi korupsi pejabat yang meluas. Sebagai balasannya, Orban semakin bertindak sebagai perusak dalam pengambilan keputusan Uni Eropa, termasuk mengancam memveto kebijakan penting seperti dukungan keuangan untuk Ukraina.

Dukungan untuk Putin dan Trump

Orban telah menjadi penentang keras bantuan militer dan keuangan untuk Ukraina sejak invasi Rusia hampir 4 tahun lalu. Dia mempertahankan hubungan dekat dengan Moskow dan bahkan menyatakan pada Desember lalu bahwa "tidak jelas siapa yang menyerang siapa" saat pasukan Rusia membanjiri perbatasan Ukraina pada 2022.

Selain itu, Orban memuji Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mendukungnya menjelang pemilu. Dia mengklaim Trump telah menciptakan lingkungan di mana "organisasi non-pemerintah palsu dan jurnalis, hakim, serta politisi yang dibeli dan dibayar" dapat diusir. Orban berjanji, jika memenangkan mayoritas kelima berturut-turut, akan membersihkan Hungaria dari pengaruh asing yang dianggapnya melanggar kedaulatan negara.

Reaksi dan Masa Depan Politik Hungaria

Peter Magyar, pemimpin partai Tisza, membantah klaim Orban bahwa partainya adalah boneka Uni Eropa. Magyar berjanji memperbaiki hubungan Hungaria dengan sekutu Barat, menghidupkan kembali ekonomi yang stagnan, dan mengembalikan negara ke jalur yang lebih demokratis.

Orban juga menuduh perusahaan multinasional seperti bank dan perusahaan energi mengambil keuntungan dari perang di Ukraina dan berkonspirasi dengan oposisi politiknya. "Sangat jelas bahwa di Hungaria, bisnis minyak, dunia perbankan, dan elit Brussel sedang bersiap untuk membentuk pemerintahan," ujarnya.

Dengan pemilu yang semakin dekat, pidato Orban ini memperdalam polarisasi politik di Hungaria dan menegaskan posisinya sebagai figur kontroversial di panggung Eropa.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga