Ketua Parlemen Iran Pimpin Perundingan dengan AS, Pakistan Jadi Mediator Utama
Jakarta - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dijadwalkan memimpin perundingan dengan Amerika Serikat (AS) yang akan dimulai pada Sabtu (11/04). Perundingan yang sangat dinantikan ini akan berlangsung di Islamabad, Pakistan, yang kini muncul sebagai mediator utama dalam upaya diplomasi antara kedua negara yang berseteru.
Delegasi AS Dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance
Dari pihak Amerika Serikat, delegasi akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, dalam wawancara dengan program Today BBC pada Kamis (09/04). Kedatangan Ghalibaf ke Pakistan menandai babak baru dalam hubungan tegang antara Iran dan AS, dengan Islamabad memainkan peran krusial sebagai penengah.
Pada akhir Maret lalu, Reuters melaporkan bahwa bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Ghalibaf sebelumnya dikeluarkan dari daftar target serangan Israel. "Israel telah mengetahui koordinat mereka dan berniat menyingkirkan mereka. Kami memberi tahu AS bahwa jika mereka juga dieliminasi, maka tidak akan ada lagi pihak untuk diajak berunding. Karena itu, AS meminta Israel untuk mengurungkan langkah tersebut," ujar seorang sumber Pakistan kepada Reuters.
Profil Mohammad Bagher Ghalibaf: Dari Komandan Militer ke Politik
Setelah beberapa kali gagal dalam pencalonan presiden pada masa lalu, Ghalibaf kini dipercaya mengemban tugas sensitif untuk bernegosiasi dengan AS. Dengan banyak pemimpin senior Iran tewas dalam serangan AS-Israel, pria berusia 64 tahun itu berpotensi memainkan peran yang semakin penting di masa depan.
Keunggulan Ghalibaf terletak pada kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang elit, pengalamannya di berbagai cabang pemerintahan, serta citranya sebagai seorang garis keras yang pragmatis. Dia disebut bagian dari kelompok garis keras di Iran, tetapi sekaligus cenderung pragmatis dalam pendekatan politiknya.
Latar Belakang Keluarga dan Karier Militer
Ghalibaf lahir dari keluarga religius kelas pekerja di kota Torghabeh, wilayah timur laut Iran, menurut Al-Alam, saluran televisi berbahasa Arab milik lembaga penyiaran negara Iran, IRIB. Kota asalnya berdekatan dengan Mashhad, yang dikenal sebagai tempat tinggal sejumlah tokoh penting Revolusi Islam.
Pada usia 16 tahun, dia mulai mengikuti pengajian para ulama revolusioner termasuk Ali Khamenei, yang kelak menjadi Pemimpin Tertinggi Iran di masjid-masjid utama di Mashhad. Tak lama setelah Revolusi Islam 1979, Ghalibaf terjun dalam perang melawan Irak dan bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada usia 20 tahun.
Dua tahun kemudian, dia diangkat menjadi komandan salah satu divisi tempur IRGC, jabatan yang dipegangnya hingga perang berakhir pada 1988. Ghalibaf menikah pada tahun yang sama ketika dia diangkat sebagai komandan IRGC, dan upacara pernikahannya dipimpin langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ruhollah Khomeini, menurut AlAlam.
Karier Politik dan Kontroversi
Setelah perang berakhir, karir Ghalibaf terus menanjak. Pada 1997 diangkat sebagai komandan Angkatan Udara IRGC. Pada Juli 1999, dia terlibat dalam penumpasan demonstrasi mahasiswa yang menentang penutupan surat kabar reformis. "Kini ada foto saya mengendarai sepeda motor 1.000 cc sambil memegang tongkat. Di mana pun diperlukan untuk turun ke jalan dan menggunakan tongkat, kami termasuk di antara mereka yang melakukannya. Dan kami bangga akan hal itu," ucapnya dalam rekaman audio yang beredar.
Setahun setelah protes mahasiswa, Ghalibaf diangkat sebagai Kepala Kepolisian pada usia 39 tahun. Selama masa jabatannya, dia membentuk layanan hotline darurat kepolisian nasional serta menyederhanakan prosedur pengaduan terhadap petugas polisi. Pada 2005, dia mengundurkan diri dan maju dalam pemilihan presiden, namun kalah.
Setelah kalah dalam pemilu tersebut, dia dipilih oleh dewan kota untuk menjabat sebagai Wali Kota Teheran selama 12 tahun, mencatatkan masa jabatan terlama sebagai wali kota ibu kota Iran. Ghalibaf kerap dipuji atas perannya dalam memperluas jaringan metro serta meningkatkan infrastruktur transportasi.
Skandal dan Ketahanan Politik
Namun reputasi Ghalibaf tercoreng setelah skandal "properti astronomis" pada 2016, ketika dewan kota dituduh menjual ratusan properti kepada pejabat dengan diskon besar-besaran. Beberapa bulan sebelum Ghalibaf meninggalkan jabatannya, gedung Plasco setinggi 17 lantai runtuh setelah kebakaran, menewaskan sedikitnya 20 petugas pemadam kebakaran.
Meski demikian, kedua kontroversi tersebut tidak berujung pada pemecatan, dan Ghalibaf berhasil bertahan. Pada 2020, dia memenangkan kursi dalam pemilihan parlemen dan kemudian terpilih sebagai Ketua Parlemen Iran. Ghalibaf kembali terseret dalam skandal korupsi pada 2022 ketika foto-foto keluarganya membawa perlengkapan bayi mewah beredar, namun dia menyebutnya sebagai upaya politik untuk menyingkirkannya.
Ambisi Presiden dan Peran Masa Depan
Ghalibaf sejak lama mematok ambisi menuju kursi kepresidenan, namun empat kali upayanya pada 2005, 2013, 2017, dan 2024 seluruhnya berakhir gagal. Dalam pemilihan presiden 2024, sekelompok besar konservatif garis keras bahkan menentang pencalonannya.
Dengan Iran kini berada di titik kritis, nasib politik Ghalibaf berpotensi semakin menanjak berkat kemampuannya mengawasi kelanjutan perang serta mengoordinasikan langkah antara para komandan militer senior dan pimpinan tiga cabang kekuasaan negara. Perundingan dengan AS di Pakistan menjadi ujian penting bagi kepemimpinannya di panggung internasional.



