Ketegangan AS-Iran Mencapai Titik Didih, Serangan Militer Mengintai Akhir Pekan
Jakarta - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas, dengan AS menyatakan kesiapan untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran pada akhir pekan ini, tergantung pada perintah langsung dari Presiden AS Donald Trump. Situasi ini mengkhawatirkan banyak pihak di kancah internasional.
Pengerahan Militer Besar-besaran di Timur Tengah
Dirangkum dari berbagai sumber, Kamis (19/2/2026), AS telah melakukan pengerahan militer secara signifikan di kawasan Timur Tengah. Pengerahan ini mencakup kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengisi bahan bakar, menunjukkan kesiapan tempur yang tinggi. Laporan dari media terkemuka AS seperti CNN dan CBS, yang dikutip oleh AFP, menyebutkan bahwa militer AS akan siap melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat pada akhir pekan ini, meskipun keputusan akhir dari Trump belum diambil.
Gedung Putih, berdasarkan sejumlah sumber yang dikutip CNN, telah diberi pengarahan bahwa militer dapat siap melancarkan serangan pada akhir pekan, setelah peningkatan drastis dalam pengerahan aset-aset angkatan udara dan angkatan laut di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir. Namun, salah satu sumber memperingatkan bahwa Trump secara pribadi masih berdebat antara mendukung atau menentang tindakan militer terhadap Iran, dan meminta pendapat para penasihat serta sekutu-sekutunya tentang langkah terbaik yang harus diambil.
Pertemuan dan Pembicaraan Diplomatik yang Intens
Para pejabat keamanan nasional AS menggelar pertemuan di Situation Room di Gedung Putih pada Rabu (18/2) waktu setempat untuk membahas situasi di Iran. Trump juga telah mendapatkan pengarahan oleh utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, tentang pembicaraan tidak langsung mereka dengan Iran di Swiss pada Selasa (17/2).
Para negosiator AS dan Iran bertukar catatan selama 3,5 jam dalam perundingan tidak langsung yang dimediasi Oman pada Selasa (17/2), meskipun pembicaraan diakhiri tanpa resolusi yang jelas. Negosiator utama Teheran mengatakan kedua pihak menyepakati "serangkaian prinsip panduan", namun seorang pejabat AS menyebut "masih banyak detail yang perlu dibahas".
Pernyataan Tidak Jelas dan Kekhawatiran Konflik
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan pada Rabu (18/2) bahwa Iran diperkirakan akan menyampaikan rincian lebih lanjut tentang posisi negosiasinya "dalam beberapa pekan ke depan". Namun, Leavitt tidak mengatakan apakah Trump akan menunda aksi militer selama jangka waktu tersebut. Saat berbicara kepada wartawan, Leavitt menegaskan bahwa Trump selalu mengutamakan diplomasi, meskipun aksi militer juga tetap menjadi opsi.
"Presiden selalu sangat jelas, terkait dengan Iran atau negara mana pun di dunia, diplomasi selalu menjadi pilihan pertamanya, dan Iran akan sangat bijak jika membuat kesepakatan dengan Presiden Trump dan pemerintahan ini," ucapnya. Leavitt menambahkan Trump "berbicara dengan banyak orang, terutama tim keamanan nasionalnya", namun dia juga mengatakan: "Ada banyak alasan dan argumen yang dapat diajukan untuk serangan terhadap Iran".
Pernyataan-pernyataan tidak jelas ini semakin meningkatkan kekhawatiran akan konflik militer AS dan Iran, meskipun para pejabat kedua negara tampak mengharapkan adanya solusi diplomatik. Selain kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal perang AS lainnya, kapal induk USS Gerald R Ford—kapal induk tercanggih dalam persenjataan AS—dapat tiba di kawasan Timur Tengah paling cepat akhir pekan ini, menambah tensi di wilayah tersebut.