Israel Perluas Serangan ke Lebanon, Hizbullah Tegaskan Tolak Negosiasi Gencatan Senjata
Ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon semakin memanas dengan eskalasi serangan yang terus berlanjut. Israel dilaporkan terus melancarkan serangan ke wilayah Lebanon dan mengirim pasukan darat untuk memperluas zona pengaruhnya. Sementara itu, kelompok Hizbullah dengan tegas menolak melakukan perundingan gencatan senjata selama serangan Israel masih berlangsung.
Eskalasi Serangan dan Perluasan Zona Keamanan
Menurut laporan AFP pada Kamis (26/3/2026), Israel yang pernah menduduki Lebanon selatan selama sekitar dua dekade hingga tahun 2000, kini kembali meningkatkan serangan terhadap negara tetangga di utaranya tersebut. Pasukan darat Israel dikerahkan untuk menguasai jalur hingga Sungai Litani, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan kedua negara.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pernyataannya mengklaim bahwa militer telah berhasil menciptakan zona keamanan yang nyata dan sedang memperluasnya dengan mendorong lebih dalam ke wilayah Lebanon. "Kami hanya menciptakan zona penyangga yang lebih besar yang dapat mencegah invasi darat ke Israel dan serangan rudal," ujar Netanyahu dalam video yang dibagikan oleh kantornya.
Hizbullah Lancarkan Serangan Balasan dan Tolak Negosiasi
Di sisi lain, Hizbullah merespons dengan meluncurkan puluhan serangan balasan. Kelompok tersebut mengeluarkan pernyataan yang mengklaim telah menyerang pasukan Israel di sembilan kota perbatasan. Pada Rabu (25/3/2026) saja, Hizbullah melancarkan lebih dari 80 serangan yang menjadi jumlah harian terbesar dalam konflik saat ini.
Pemimpin Hizbullah Naim Qassem dengan tegas menyatakan penolakan kelompoknya terhadap negosiasi gencatan senjata di tengah serangan yang masih berlangsung. Menurutnya, negosiasi dalam kondisi seperti ini sama dengan bentuk penyerahan diri. "Ketika negosiasi dengan musuh Israel diusulkan di bawah serangan, ini adalah pemaksaan penyerahan diri," tegas Qassem.
Korban dan Upaya Diplomasi
Militer Israel melaporkan salah satu tentaranya terluka parah akibat tembakan roket di Lebanon selatan, sementara seorang perwira lainnya mengalami luka ringan dalam pertempuran. Meski roket juga ditembakkan ke wilayah Haifa di Israel utara, serangan tersebut tidak mengakibatkan korban luka.
Presiden Lebanon telah menyerukan negosiasi langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Israel untuk mengakhiri pertempuran, namun proposal ini sejauh ini ditolak. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut menyerukan kedua belah pihak untuk menghentikan tembakan dan memperingatkan Israel agar tidak meniru "model Gaza" di Lebanon selatan seperti yang disarankan beberapa pejabat Israel, yang dikhawatirkan akan memicu pengungsian massal.
Latar Belakang Konflik
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah ketika Hizbullah mulai menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret 2026 sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Konflik ini semakin memperumit situasi keamanan regional yang sudah rentan.



