Israel Lanjutkan Penghancuran di Lebanon Selatan Usai Gencatan Senjata Diumumkan
Beirut - Militer Israel dilaporkan melakukan aktivitas penghancuran skala besar di wilayah Lebanon bagian selatan, dekat perbatasan, pada Jumat (17/4/2026) waktu setempat. Aksi ini terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon resmi berlaku, memicu kecaman dan kekhawatiran atas pelanggaran kesepakatan.
Ledakan di Khiam Saat Gencatan Senjata Baru Dimulai
Menurut laporan dari kantor berita Lebanon, National News Agency (NNA), seperti dikutip Anadolu Agency, pasukan Israel melakukan penghancuran "besar-besaran" di kota Khiam, yang terletak di distrik Marjayoun. Aktivitas ini melibatkan serangkaian ledakan yang terdengar di area tersebut, tepat sebelum gencatan senjata mulai efektif.
Gencatan senjata antara kedua negara, yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berlaku mulai Kamis (16/4) tengah malam waktu setempat dan direncanakan berlangsung selama 10 hari ke depan. Namun, insiden di Khiam menunjukkan ketegangan yang masih tinggi.
Pernyataan Netanyahu dan Laporan Pelanggaran Militer Lebanon
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap bertahan di posisi mereka di Lebanon selatan, meskipun ada gencatan senjata. Di sisi lain, militer Lebanon melaporkan sejumlah pelanggaran oleh Israel terhadap kesepakatan tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui NNA, militer Lebanon menyebut bahwa pelanggaran-pelanggaran itu mencakup penembakan sporadis yang menargetkan kota-kota dan desa-desa di wilayah selatan. Mereka mengimbau warga yang mengungsi untuk menunda kepulangan ke rumah mereka karena risiko keamanan masih sangat nyata.
"Komando militer menyerukan kepada warga untuk menunggu sebelum kembali ke kota dan desa di wilayah selatan, mengingat sejumlah pelanggaran terhadap kesepakatan," demikian bunyi pernyataan tersebut. Masyarakat juga didesak untuk mematuhi instruksi unit militer yang dikerahkan dan menghindari area-area yang dianggap berbahaya.
Konteks Perang Timur Tengah dan Dampak pada Lebanon
Lebanon telah terseret ke dalam konflik Perang Timur Tengah sejak 2 Maret lalu, setelah kelompok Hizbullah yang berbasis di negara itu dan didukung Iran melancarkan serangan terhadap wilayah Israel. Sejak saat itu, serangan udara Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi di Lebanon.
Israel juga telah mengerahkan pasukan darat ke wilayah selatan Lebanon, dekat perbatasan, memperburuk situasi kemanusiaan. Gencatan senjata yang baru diumumkan diharapkan dapat meredakan ketegangan, tetapi insiden penghancuran di Khiam menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh tantangan.



