Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan tegas menyatakan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Amerika Serikat sebelum hak-hak rakyat Iran dijamin sepenuhnya. Pernyataan ini disampaikan di tengah ketegangan hubungan kedua negara yang masih berlangsung.
Penolakan Terhadap Janji AS
Ghalibaf menekankan bahwa tim negosiasi Iran sama sekali tidak menaruh kepercayaan pada janji atau pernyataan yang disampaikan oleh pihak lawan. Hal ini menunjukkan sikap skeptis Iran terhadap itikad baik Amerika Serikat dalam proses diplomasi.
"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah dijunjung tinggi," ujar Ghalibaf dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, seperti dikutip dari New Straits Times pada Minggu (31/5/2026).
Latar Belakang Konflik
Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung antara Teheran dan Washington untuk mengakhiri konflik yang telah pecah sejak 28 Februari 2026. Konflik ini telah menimbulkan ketegangan signifikan di kawasan dan memicu kekhawatiran internasional.
Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus didasarkan pada penghormatan penuh terhadap kedaulatan dan hak-hak rakyat Iran. Tanpa jaminan tersebut, Teheran tidak akan bersedia melanjutkan negosiasi atau menyetujui perjanjian apa pun dengan Amerika Serikat.
Implikasi Diplomasi
Sikap keras Iran ini diprediksi akan mempersulit upaya mediasi internasional untuk meredakan ketegangan. Beberapa pengamat menilai bahwa ketidakpercayaan yang mendalam antara kedua pihak menjadi hambatan utama dalam mencapai solusi damai.
Meskipun demikian, kedua negara masih terus berkomunikasi melalui saluran diplomatik. Belum ada kepastian kapan negosiasi akan mencapai titik terang, mengingat perbedaan posisi yang masih sangat tajam.



