Fokus Dunia Beralih ke Iran, Gaza Semakin Terlupakan dalam Kebuntuan Diplomatik
Selama berbulan-bulan, berbagai upaya mediasi internasional telah dilakukan untuk menciptakan gencatan senjata yang stabil antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza. Namun, hasilnya dinilai mengecewakan oleh para ahli, dengan pembicaraan politik yang terhenti dan harapan stabilitas jangka panjang yang memudar. Baru-baru ini, pada hari Minggu (13/04), sebuah delegasi Hamas berangkat ke Kairo untuk berbicara dengan mediator Mesir mengenai langkah-langkah selanjutnya dalam proses gencatan senjata, tetapi kemajuan tetap minim.
Negosiasi Tanpa Kemajuan dan Dampak Perang Iran
Upaya penyelesaian dan mediasi saat ini juga dibayangi oleh dampak perang Iran, yang semakin mengalihkan perhatian global dari krisis Gaza. Salah satu inisiatif adalah kerja "Dewan Perdamaian" yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump, diluncurkan dengan ambisi besar sebagai pesaing PBB, tetapi sejauh ini hampir tidak memberikan dampak nyata. Struktur kelembagaan telah dibentuk dan janji pendanaan miliaran telah disampaikan, namun banyak dari dana tersebut mengalir sangat lambat atau bahkan belum sama sekali.
Pakar Israel dan Timur Tengah, Peter Lintl dari Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP) di Berlin, menggambarkan situasi dengan hati-hati: "Saat ini semuanya tampak berputar," katanya, tapi hanya berputar di tempat. Isu-isu utama seperti pelucutan senjata Hamas, pemerintahan masa depan Gaza, dan penarikan pasukan Israel masih belum terselesaikan selama berbulan-bulan. Selain itu, belum ada mekanisme efektif untuk menegakkan kesepakatan, bahkan jika kesepakatan itu tercapai.
Titik Tersulit: Pelucutan Senjata Hamas dan Posisi yang Berseberangan
Persoalan yang dihadapi bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut isu-isu mendasar, termasuk urutan langkah yang harus diambil. Salah satu perdebatan utama adalah apakah Hamas harus dilucuti terlebih dahulu atau Israel yang harus menarik pasukannya lebih dulu. Pada awal tahun 2026, Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa pengamat internasional independen akan mengawasi proses demiliterisasi Gaza, menunjukkan gagasan konkret untuk masa transisi.
Namun, pelaksanaannya membutuhkan kompromi dari kedua pihak, dan hal inilah yang masih belum tercapai. Simon Wolfgang Fuchs, seorang ahli studi Islam dari Universitas Ibrani Yerusalem, menjelaskan: "Bagi Israel jelas: pelucutan senjata dulu, baru penarikan pasukan. Bagi Hamas justru sebaliknya." Kedua pihak tetap bertahan pada posisi masing-masing yang saat ini sulit dijembatani, meskipun Hamas, meski melemah secara militer, tetap menjadi aktor penting dengan struktur yang masih ada dan kontrol atas sebagian wilayah Gaza.
Situasi Militer yang Tegang dan Dampak Kemanusiaan yang Parah
Secara militer, situasi juga tetap tegang. Israel terus melakukan serangan terarah terhadap pimpinan Hamas, tetapi serangan tersebut sering kali juga menimbulkan korban sipil, yang semakin memperkecil peluang perdamaian jangka panjang. Menurut analisis terbaru dari organisasi bantuan internasional Oxfam, rencana gencatan senjata dari pemerintahan Trump berada di ambang kegagalan, dengan elemen penting seperti pembentukan badan teknokrat untuk mengelola administrasi sipil Gaza yang belum terlaksana.
Dampak terbesar tetap dirasakan oleh warga sipil. Situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat buruk, bahkan di banyak tempat kembali memburuk. Kekurangan pasokan, harga-harga yang naik, dan infrastruktur yang rusak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Fuchs menggambarkan kondisi ini sebagai "spiral ke bawah", dengan ketidakpastian tinggi meskipun bantuan berhasil masuk. Pengalaman kekurangan sebelumnya, terutama kelaparan pada tahun 2025, masih membekas dan memperkuat rasa ancaman yang terus-menerus.
Kecilnya Kemungkinan Terobosan dan Masa Depan yang Suram
Peter Lintl meragukan bahwa terobosan dapat dicapai dalam waktu dekat, dengan biaya politik bagi kedua pihak yang masih terlalu tinggi dan hambatan struktural yang tetap ada. Banyak analis internasional memiliki pandangan serupa. Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, meski memberikan sedikit kelegaan, hanya berjalan terbatas dan sering terganggu oleh serangan-serangan kecil.
Untuk saat ini, Jalur Gaza tampaknya akan tetap berada dalam kondisi yang bukan perang, tetapi juga bukan damai, sebuah situasi yang berbahaya karena eskalasi baru bisa terjadi kapan saja. Sementara fokus dunia beralih ke Iran, Gaza semakin terlupakan dalam kebuntuan diplomatik yang memperpanjang penderitaan warga sipil.



