Pengiriman pertama alpukat dari Kenya tiba di China pada awal Mei di bawah kebijakan baru Beijing yang menghapus tarif impor untuk Afrika. Kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Desember 2025 itu memberikan akses bebas tarif bagi ekonomi terbesar di Afrika ke pasar China selama dua tahun ke depan.
Petani Kenya Bersorak
"Sangat menggembirakan bahwa China menerapkan kebijakan nol tarif," ujar Olive Gichuri, petani kopi asal Kenya, kepada DW. "Ini berarti pendapatan yang lebih baik bagi para petani. Ketika kopi kami menjadi sangat kompetitif, permintaan meningkat dan pasar semakin luas." Menurut Gichuri, hilangnya tarif ekspor membuka peluang sumber pendapatan baru di China.
Hubungan Dagang China-Afrika
Lauren Johnston, peneliti senior di AustCina Institute Melbourne, mengatakan kebijakan ini "lebih merupakan hadiah untuk ekonomi Afrika yang lebih kuat, yaitu negara berpendapatan menengah yang siap meningkatkan ekspor." Pada 2025, China dan Afrika mencatat perdagangan rekor 348 miliar dolar AS. China telah menjadi mitra dagang terbesar Afrika selama 16 tahun berturut-turut. Negara-negara Afrika mengirim barang senilai 123 miliar dolar AS ke China, terutama minyak, mineral, dan bahan mentah, sementara mereka membeli 225 miliar dolar AS produk manufaktur, elektronik, kendaraan, dan mesin dari China.
Defisit Perdagangan Meningkat
Defisit perdagangan Afrika dengan China mencapai rekor 102 miliar dolar AS pada 2025, naik dari 62 miliar dolar AS tahun sebelumnya. "Harga ekspor rendah karena kita tidak menambah nilai pada ekspor kita," kata ekonom Universitas Ghana, Adu Owusu Sarkodie. "Cara terbaik adalah memberikan nilai tambah agar mendapatkan harga lebih tinggi, pendapatan lebih tinggi, dan mengurangi kemiskinan." Defisit ini didorong oleh upaya China mendiversifikasi rantai pasok akibat perselisihan dagang dengan AS, serta meningkatnya permintaan Afrika terhadap teknologi hijau seperti kendaraan listrik dan panel surya.
Negara Pemenang: Kenya, Afrika Selatan, Ghana
Kenya menjadi salah satu penerima manfaat awal. China memberikan akses bebas bea untuk 98,2% produk Kenya di bawah Early Harvest Agreement. "Dengan populasi China yang besar, ini berarti lebih banyak bisnis kopi di China," kata petani Kenya, Frederik Gathuma. Meski volume perdagangan masih timpang, Kenya memiliki standar pertanian dan jaringan ekspor yang mapan. Afrika Selatan juga diuntungkan, dengan teh rooibos dan produk tambang mendapat akses bebas tarif. Ghana mencapai rekor perdagangan 14,1 miliar dolar AS dengan China pada 2025. Namun, ekonom mendorong Ghana untuk tidak hanya mengekspor kakao mentah, tetapi berinvestasi dalam pengolahan agar bisa mengekspor produk jadi.
Hambatan bagi Negara Terkurung Daratan
Mali dan Niger menghadapi biaya logistik tinggi yang mengurangi manfaat tarif. Barang mereka harus menempuh ratusan kilometer ke pelabuhan. Selain itu, mereka tidak memiliki industri ekspor besar yang memenuhi volume, sertifikasi, dan pengemasan China. "Kami melatih eksportir agar mematuhi standar bea cukai China," kata Erick Rutto, presiden Kamar Dagang Nasional Kenya. Produsen Afrika perlu berinvestasi dalam pengujian dan sertifikasi. Sebagian besar pengiriman masih melalui Dubai atau Singapura, menambah biaya. China berinvestasi dalam jalur pelayaran langsung, tetapi butuh waktu.
Belajar dari Model China
Johnston mengatakan kebijakan nol tarif dapat meningkatkan perdagangan intra-Afrika. Orang terkaya di Afrika, Aliko Dangote, berpendapat China mendominasi bukan karena nol tarif, tetapi karena menyediakan pembiayaan jangka panjang untuk proyek infrastruktur. "Jika saya pergi ke Italia, mereka minta cek 500 juta dolar, sementara China bilang bayar 20% saja, sisanya dibiayai lima tahun, mana yang Anda pilih?" ujarnya. Bagi Kenya, Afrika Selatan, dan Ghana, kebijakan ini adalah peluang nyata. Namun bagi sebagian besar negara Afrika, ini bukan "kunci emas". "Negara-negara Afrika ingin meniru kisah pertumbuhan China," pungkas Johnston. "Mereka perlu mencari cara melakukan industrialisasi dari proses ini."



