KOMPAS.com - Lebih dari tiga bulan setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, Washington dan Teheran kini telah mencapai kesepakatan mengenai kerangka kerja untuk mengakhiri permusuhan dalam jangka panjang. Konflik yang sempat memanas ini mengguncang pasar energi global karena ketegangan di kawasan Timur Tengah mengganggu salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, yaitu Selat Hormuz.
Dampak Konflik terhadap Pasar Energi Global
Selat Hormuz merupakan rute utama pengiriman minyak, gas alam cair (LNG), dan komoditas penting lainnya. Setiap gangguan di jalur ini langsung berdampak pada pasokan energi global. Selama konflik berlangsung, harga minyak dan gas melonjak tajam, memicu kekhawatiran akan krisis energi di berbagai negara.
Normalisasi Pelayaran Butuh Waktu
Meskipun kesepakatan damai telah diraih, para ahli menilai bahwa normalisasi pelayaran melalui Selat Hormuz tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Dikutip dari BBC pada Senin (15/6/2026), proses pemulihan kepercayaan dan keamanan di kawasan tersebut memerlukan waktu yang tidak sedikit. Selain itu, infrastruktur pelayaran yang sempat terganggu juga perlu diperbaiki.
Beberapa faktor yang mempengaruhi lambatnya normalisasi antara lain:
- Pengecekan keamanan jalur pelayaran secara menyeluruh.
- Koordinasi antara negara-negara di kawasan Timur Tengah.
- Pemulihan infrastruktur pelabuhan dan sistem navigasi.
Kesepakatan ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas pasar energi global, namun semua pihak masih harus bersabar menunggu proses normalisasi berjalan sepenuhnya.



