AS Telah Habiskan Rp 203,8 Triliun untuk Perang Melawan Iran, Biaya Terus Meningkat
AS Habiskan Rp 203,8 Triliun untuk Perang Iran, Biaya Naik

AS Telah Habiskan Rp 203,8 Triliun untuk Perang Melawan Iran, Biaya Terus Meningkat

Washington DC - Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan biaya sedikitnya US$ 12 miliar atau setara Rp 203,8 triliun dalam perang melawan Iran, sejak melancarkan serangan gabungan skala besar bersama Israel pada 28 Februari 2026. Perang yang terus berkecamuk selama 17 hari terakhir ini semakin memicu kekhawatiran domestik di AS atas dampak ekonomi yang semakin besar dari konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah tersebut.

Pengungkapan Biaya Besar oleh Penasihat Ekonomi Gedung Putih

Kevin Hassett, penasihat ekonomi utama untuk Presiden AS Donald Trump, mengungkapkan biaya sangat besar yang harus dikucurkan AS itu dalam wawancara dengan program televisi CBS "Face the Nation" yang ditayangkan pada Minggu, 15 Maret 2026 waktu setempat. Hassett, yang secara resmi menjabat sebagai Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, pada awalnya terkesan menyebutkan angka tersebut sebagai total proyeksi untuk perang secara keseluruhan.

Namun kemudian dia terpaksa mengklarifikasi di tengah wawancara dengan CBS tersebut bahwa biaya US$ 12 miliar (Rp 203,8 triliun) itu merupakan angka terbaru yang dia terima sejauh ini. Wartawan CBS, Margaret Brennan, menyebutkan bahwa lebih dari US$ 5 miliar (Rp 84,9 triliun) dihabiskan oleh AS hanya untuk amunisi pada minggu pertama perang. Hassett tidak menanggapi secara langsung data tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Klaim Tidak Ada Ancaman Ekonomi dan Perbandingan dengan Masa Lalu

Meskipun demikian, Hassett menepis adanya ancaman ekonomi dari perang terhadap AS. Dia mengklaim bahwa pasar keuangan yang menetapkan harga kontrak energi masa depan telah mengantisipasi penyelesaian yang cepat dan harga energi yang lebih rendah, bertentangan dengan kekhawatiran konsumen AS atas kenaikan biaya bahan bakar di SPBU.

Lebih lanjut, Hassett menyatakan bahwa gangguan apa pun terhadap pengiriman minyak di kawasan Teluk, dengan adanya pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran, akan lebih merugikan negara-negara yang bergantung pada minyak di kawasan itu daripada AS. "Amerika tidak akan mengalami kerugian ekonomi akibat tindakan Iran. Kita memiliki banyak sekali minyak," ucapnya, sembari menambahkan bahwa situasinya tidak akan seperti tahun 1970-an silam.

Peringatan Menteri Pertahanan dan Proyeksi Biaya Masa Depan

Sementara itu, dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth baru-baru ini memperingatkan bahwa pengeboman terhadap Iran "akan meningkat secara dramatis", hal ini menunjukkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan AS dalam perang akan semakin bertambah. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa konflik mungkin akan berlanjut dan memerlukan anggaran yang lebih besar di masa mendatang.

Perang ini telah menjadi sorotan global, dengan banyak pihak mengkhawatirkan implikasi ekonomi dan keamanan yang lebih luas. Biaya yang telah dikeluarkan AS sejauh ini mencerminkan intensitas konflik dan potensi dampak jangka panjang bagi perekonomian dunia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga