Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membeberkan kunci keberhasilan dalam menyelesaikan dua proyek yang telah mangkrak selama puluhan tahun di ibu kota, yaitu proyek monorel di Jalan HR Rasuna Said dan penataan lahan Rumah Sakit Sumber Waras. Menurut Pramono, penertiban proyek monorel yang telah mangkrak selama lebih dari dua dekade diawali dengan konsultasi bersama Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta untuk memastikan setiap langkah memiliki kepastian hukum.
Konsultasi Hukum Kunci Utama
“Ketika saya berkonsultasi awal-awal dengan beliau, semua orang tidak pernah membayangkan bahwa proyek ini bisa terselesaikan,” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (29/6). Keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko menjadi faktor utama yang membawanya berhasil menata tiang-tiang monorel mangkrak sepanjang 3,8 kilometer di koridor Jalan HR Rasuna Said. Pramono mengaku bahwa pembiayaan pembongkaran tiang monorel menjadi pengalaman baru bagi Pemprov DKI. “Kita kan tidak pernah punya pengalaman motong monorel begitu. Tapi Alhamdulillah singkat cerita sekarang biayanya hanya Rp 91 miliar dan selesai dengan baik. Dan sekarang menjadi salah satu role model di Jakarta,” ujar dia.
Penyelesaian Lahan Sumber Waras
Selain monorel, Pramono juga menyinggung penyelesaian persoalan lahan Rumah Sakit Sumber Waras yang selama bertahun-tahun tersangkut masalah hukum. Proses tersebut ditempuh melalui koordinasi dan konsultasi dengan berbagai aparat penegak hukum, termasuk Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Dan untuk selesai itu tidak hanya selesai di KPK, di Kejaksaan, tapi juga harus selesai di BPK. Tapi alhamdulillah sekarang semuanya sudah selesai. Dan sekarang Sumber Waras sudah kami ratakan, sebentar lagi kita akan mulai pembangunan untuk Rumah Sakit Internasional Sumber Waras,” ujar Pramono.
Pentingnya Keberanian dan Pengelolaan Risiko
Pramono menegaskan bahwa dua proyek itu menjadi contoh nyata bagi para Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta mengenai pentingnya keberanian mengambil keputusan yang dibarengi dengan pengelolaan risiko secara tepat. Menurut Pramono, risiko dalam pengambilan kebijakan dapat dikelola selama tidak dilandasi kepentingan pribadi. “Risikonya bukan enggak tinggi, risikonya tinggi sekali. Tetapi Saudara-saudara harus smart, cerdas untuk mengelola risiko itu selama tidak ada beban pribadi. Belum-belum saudara-saudara sudah punya beban pribadi, begitu punya beban pribadi saudara pasti tidak akan bisa mengelola itu dengan baik,” kata Pramono.



