RI dan Singapura Sepakat Kerja Sama Mitigasi El Nino, Karhutla, dan Kelola Sampah
RI-Singapura Kerja Sama Mitigasi El Nino, Karhutla, dan Sampah

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI bersama Ministry of Sustainability and the Environment Singapura resmi menyepakati kerja sama lingkungan hidup yang mencakup berbagai aspek, mulai dari penanganan sampah, pencemaran udara, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga mitigasi fenomena El Nino. Kesepakatan ini ditandatangani di kantor KLH, Jakarta Selatan, pada Senin (29/6/2026).

Fokus pada Mitigasi Bukan Pemadaman

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pemadaman api saat terjadi karhutla, melainkan pada upaya pencegahan agar kebakaran tidak terjadi. "Yang kita tidak hanya berpikir tentang bagaimana apa, mematikan api kalau ada, tapi yang kita kerjakan adalah supaya api itu tidak ada. Jadi, mitigasi. Dan mitigasi itu kita kerjakan terus, dan kita bersyukur bila ada komitmen juga dari Pemerintah Singapura untuk membantu sama-sama," ujar Jumhur.

Dalam upaya mitigasi karhutla, KLH telah melakukan berbagai langkah, termasuk pembuatan sekat kanal (canal blocking) dan rekayasa cuaca berupa hujan buatan. "Kita bekerja keras untuk, dan sudah kita kerjakan, seperti misalnya membuat blocking kanal-kanal, sehingga air yang tersisa yang ada itu bisa ditampung. Dan kemudian dari BNPB, kita sudah bekerja sama untuk membuat hujan buatan. Hujan buatan airnya tertampung dan tidak mengalir lagi ke sungai, yang akhirnya peatland atau air apa, gambut, tanah gambut itu akan terus teraliri air, basah, dan itu yang akan menjadi apa, penangkal dari kebakaran lahan," jelas Jumhur.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Belajar Pengelolaan Sampah dari Singapura

Jumhur mengakui bahwa Indonesia dapat belajar banyak dari Singapura dalam hal pengelolaan sampah, terutama daur ulang dan ekonomi sirkular. "Kita bisa banyak belajar dari Singapura soal waste management, apa, recycling-recycling barang-barang atau air dan sebagainya. Itu saya tahu Singapura punya pengalaman yang baik. Maka dari itu nanti akan ada kolaborasi di, di bidang itu di kemudian hari," katanya.

Selain itu, Jumhur mengungkapkan bahwa banyak investor Singapura yang siap berpartisipasi dalam perdagangan karbon di Indonesia. Ia menekankan pentingnya memberikan manfaat bagi warga lokal. "Saya dengar Singapura juga sudah siap-siap nih. Banyak investor yang dari Singapura sudah standby untuk ikut serta dalam perdagangan karbon. Kita akan launch pada tanggal 9 Juli jam 3 sore untuk memulai adanya SRUK itu, Sistem Registri Unit Karbon. Sehingga sejak itu kita bisa mulai memperdagangkan. Tapi sekali lagi, yang saya wanti-wanti, benefit-benefit yang paling penting adalah untuk local people," tegasnya.

Dampak Positif bagi Komunitas Internasional

Jumhur meyakini bahwa dengan memperhatikan kesejahteraan masyarakat lokal, komunitas internasional akan lebih menghargai perdagangan karbon Indonesia, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harga karbon. "Biasanya international community atau masyarakat internasional akan menghargai bila perdagangan itu menghargai lokal. Harga pun akan tinggi. Jadi kita udah pasti-pasti semuanya berpikir ke arah itu," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Minister of Sustainability and the Environment Singapura, Grace Fu Hai Yen, mengapresiasi rencana KLH dalam mengatasi bahaya El Nino. Ia menekankan bahwa El Nino berdampak pada semua negara di Asia Tenggara. "Menteri telah memaparkan secara sangat komprehensif rencana untuk mengatasi bahaya nyata di depan mata dari El Nino ini secara preemtif, yang dapat berdampak pada semua negara di kawasan ini. Indonesia memiliki kapabilitas," kata Grace.

Langkah Preemtif dan Kerja Sama Lintas Bidang

Grace menambahkan bahwa kerja sama ini memungkinkan kedua negara untuk mengambil langkah yang lebih cepat dan preemtif. "Menurut saya, adalah hal yang baik bagi Singapura untuk bekerja sama dengan Indonesia agar kita berdua bisa mendapatkan informasi lebih awal dan dapat mengambil langkah-langkah preemtif. Namun, kabut asap lintas batas hanyalah salah satu pilar kerja sama. Ada banyak bidang kerja sama lainnya, seperti dalam pengelolaan sampah, daur ulang, ekonomi sirkular, dan dalam perubahan iklim. Jadi, di bidang lingkungan hidup, saya rasa ada banyak area di mana kita dapat saling berbagi pengalaman dan juga teknologi," pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga