NTT Wajibkan Anak Belajar 1,5 Jam di Rumah Setiap Malam
NTT Wajibkan Anak Belajar 1,5 Jam di Rumah

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi memperkenalkan Gerakan Meja Belajar sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. Gerakan ini mewajibkan setiap anak untuk belajar selama 1,5 jam di rumah setiap harinya, sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026.

Tujuan Gerakan Meja Belajar

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menjelaskan bahwa gerakan ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan belajar yang terstruktur di lingkungan rumah. Dengan adanya jam belajar wajib, diharapkan anak-anak dapat lebih fokus dan disiplin dalam mengulang pelajaran serta mengerjakan tugas sekolah.

Ambrosius menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan dari berbagai pihak, mulai dari tingkat desa, Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), hingga orang tua siswa. “Kami berharap seluruh elemen masyarakat dapat mendukung gerakan ini demi masa depan anak-anak NTT,” ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Jam Belajar Serentak pada Malam Hari

Salah satu poin penting dalam peraturan tersebut adalah penetapan jam belajar serentak yang dilaksanakan pada malam hari. Meskipun belum diumumkan secara detail rentang waktunya, pemerintah daerah memastikan bahwa jadwal ini akan disosialisasikan secara luas agar semua pihak dapat menyesuaikan.

Dengan adanya jam belajar yang seragam, diharapkan tercipta lingkungan yang kondusif bagi anak-anak untuk belajar tanpa gangguan. Orang tua juga diimbau untuk berperan aktif dalam mengawasi dan mendampingi anak selama proses belajar di rumah.

Dukungan dari Semua Pihak

Pemerintah Provinsi NTT mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menyukseskan Gerakan Meja Belajar. Sosialisasi akan dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat provinsi hingga ke desa-desa. Selain itu, pemerintah juga akan memantau pelaksanaan gerakan ini secara berkala untuk memastikan kepatuhan dan efektivitasnya.

Ambrosius Kodo menambahkan bahwa gerakan ini bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia NTT. “Kami percaya bahwa dengan kebiasaan belajar yang baik, anak-anak NTT akan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” pungkasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga