Seorang pakar pendidikan menyampaikan kritik tajam terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Menurutnya, selama ini kita baru mampu mengelola pendidikan, tetapi belum sampai pada tahap mendidik. Pernyataan ini menjadi bahan refleksi bagi para pemangku kepentingan di dunia pendidikan.
Apa Bedanya Mengelola dan Mendidik?
Mengelola pendidikan lebih menekankan pada aspek administratif, seperti kurikulum, sarana prasarana, dan anggaran. Sementara itu, mendidik adalah proses membentuk karakter, nalar, dan kepribadian peserta didik. Sayangnya, menurut pakar tersebut, perhatian kita masih terlalu besar pada hal-hal teknis.
Fokus pada Angka dan Administrasi
Indikator keberhasilan pendidikan seringkali diukur dari angka partisipasi, nilai ujian, atau jumlah sekolah. Padahal, esensi pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk manusia seutuhnya. Banyak sekolah yang sibuk dengan administrasi, tetapi lupa pada tujuan utama pendidikan.
Dampak pada Peserta Didik
Akibatnya, peserta didik menjadi objek yang harus memenuhi target, bukan subjek yang berkembang. Mereka diajari untuk menghafal, bukan berpikir kritis. Kreativitas dan inovasi terhambat karena sistem yang kaku. Pendidikan yang seharusnya membebaskan justru menjadi alat pengekang.
Solusi: Kembali ke Fitrah Pendidikan
Untuk itu, perlu ada perubahan paradigma. Pemerintah dan pendidik harus berani melakukan transformasi. Kurikulum perlu dirancang agar lebih fleksibel dan berpusat pada siswa. Guru harus diberi ruang untuk berinovasi dalam mengajar. Selain itu, evaluasi tidak hanya berdasarkan nilai, tetapi juga perkembangan karakter dan soft skills.
Peran Semua Pihak
Orang tua dan masyarakat juga memiliki peran penting. Mereka harus mendukung proses mendidik di rumah dan lingkungan. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan seluruh ekosistem. Dengan kerja sama, kita bisa mengubah pengelolaan menjadi pendidikan yang sesungguhnya.
Kritik ini bukan untuk mengecilkan hati, tetapi sebagai panggilan untuk berbenah. Sudah saatnya kita beranjak dari sekadar mengelola menuju proses mendidik yang hakiki. Hanya dengan begitu, generasi penerus bangsa dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.



