Di Australia, Prodi Juga Bisa Ditutup: Cerita Dosen UB Saat Kuliah
Di Australia, Prodi Juga Bisa Ditutup: Cerita Dosen UB

Pengalaman seorang dosen Universitas Brawijaya (UB) saat menempuh pendidikan di Australia memberikan gambaran bahwa penutupan program studi (prodi) bukanlah hal yang tabu di negara maju. Hal ini diungkapkan dalam sebuah diskusi yang membahas mutu pendidikan tinggi di Indonesia.

Cerita Dosen UB

Dosen UB tersebut menceritakan bahwa selama kuliah di Australia, ia menyaksikan beberapa prodi ditutup karena tidak memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Penutupan ini dilakukan secara transparan dan berdasarkan evaluasi ketat dari pihak universitas maupun pemerintah.

Menurutnya, sistem akreditasi di Australia sangat ketat. Setiap prodi harus secara periodik menunjukkan kinerja akademik, relevansi kurikulum, dan kepuasan mahasiswa. Jika tidak memenuhi target, prodi tersebut akan mendapatkan peringatan dan akhirnya ditutup jika tidak ada perbaikan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pelajaran untuk Indonesia

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Dosen UB menekankan pentingnya evaluasi prodi secara berkala dan berani mengambil tindakan tegas terhadap prodi yang tidak berkualitas. Hal ini demi menjaga mutu lulusan dan daya saing bangsa.

Ia juga menyoroti bahwa penutupan prodi bukanlah akhir dari segalanya. Mahasiswa yang terdampak biasanya dialihkan ke prodi lain yang masih relevan, dan dosen diberikan kesempatan untuk mengajar di bidang lain atau meningkatkan kompetensi.

Di Indonesia, penutupan prodi masih jarang terjadi karena berbagai faktor, termasuk resistensi dari pihak internal. Namun, dengan semakin ketatnya persaingan global, langkah serupa mungkin perlu dipertimbangkan.

Dampak Positif

Penutupan prodi di Australia justru membawa dampak positif. Universitas menjadi lebih fokus pada prodi yang unggul dan diminati pasar kerja. Selain itu, sumber daya dialokasikan secara lebih efisien.

Dosen UB berharap Indonesia dapat mengadopsi sistem yang lebih fleksibel dan berorientasi pada kualitas. Dengan demikian, pendidikan tinggi di Indonesia dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap bersaing di era global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga