Dari Teknik Elektro ke Robotika: Perjalanan Disa Nabila Raih Beasiswa STEM Inggris
Disa Nabila: Dari Teknik Elektro ke Beasiswa Robotika Inggris

Dari Teknik Elektro ke Robotika: Perjalanan Disa Nabila Raih Beasiswa STEM Inggris

Disa Nabila telah lama akrab dengan dunia yang menuntut presisi dan logika tinggi. Selama menempuh pendidikan di Politeknik Manufaktur Negeri Bandung melalui program double degree, yaitu Bachelor of Applied Science dan Bachelor of Mechatronics Engineering, ia terbiasa bergelut dengan desain sistem, instalasi mesin, hingga pengujian perangkat.

Proyek Akhir yang Menantang

Ketertarikannya pada teknologi tidak berhenti di ruang kelas. Melalui tugas akhirnya, Disa memilih proyek yang cukup menantang:

  • Mengembangkan program antarmuka untuk mengoperasikan mesin computer numerical control (CNC) tiga sumbu berbasis Visual Basic
  • Menyempurnakan prototipe robot pemantau rel kereta api otonom untuk mendeteksi potensi kerusakan

Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa melihat teknologi bukan sekadar teori, melainkan solusi nyata yang harus bekerja di lapangan. Bekal itu kemudian ia bawa saat memulai karier sebagai electrical engineer di salah satu perusahaan rintisan drone di Bandung, Jawa Barat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Selama kurang lebih tiga tahun, Disa terlibat langsung dalam berbagai proses, mulai dari merancang sistem kelistrikan hingga memastikan perangkat dapat berfungsi optimal saat diuji di lapangan.

Menemukan Passion di Bidang Robotika

Namun, dari pengalaman tersebut ia mulai menyadari arah minatnya yang sebenarnya: robotika dan autonomous system. "Dalam perjalanan itu, saya menyadari bahwa saya ingin menjadi spesialis di bidang robotika," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (7/4/2026).

Kesadaran tersebut mendorong Disa untuk melangkah lebih jauh. Ia mulai mencari program studi yang bisa memperdalam minatnya, hingga akhirnya memilih Autonomous Systems and Robotics di University of Bath, Inggris.

Mendapatkan Kesempatan melalui Beasiswa Women in STEM

Kesempatan itu ia dapatkan melalui British Council: Women in STEM Scholarships yang kemudian membuka jalan baginya untuk menekuni bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) dengan penuh rasa ingin tahu.

"Program beasiswa Women in STEM juga selaras dengan visi dan misi saya sebagai perempuan. Saya ingin mendukung kontribusi perempuan Indonesia di bidang teknik lebih lanjut," jelasnya.

Disa menyadari bahwa perkembangan teknologi robotik di Indonesia membutuhkan keberagaman tim. Kontribusi perempuan belum optimal. Bahkan, lapangan kerja di bidang ini pun terbatas.

Menghadapi Ekspektasi Implisit di Dunia STEM

Bagi Disa, perjalanan sebagai perempuan di bidang STEM tak selalu dihadapkan pada diskriminasi secara terang-terangan. Bidang yang mayoritas didominasi laki-laki itu kerap menimbulkan "ekspektasi implisit" yang menjadi tekanan tersendiri.

"Karena bidang yang kami (perempuan) kerjakan itu (STEM) mayoritasnya (digeluti) laki-laki, jadi kami butuh usaha lebih untuk membuktikan kalau kami juga pantas dan bisa di bidang tersebut," tutur Disa.

Alih-alih memadamkan semangat, tantangan tersebut justru membentuk kepercayaan dirinya. Ia belajar bahwa kepercayaan diri serta kemampuan teknis harus tumbuh beriringan dengan kemampuan menyampaikan argumen secara tegas dan jelas.

Data Partisipasi Perempuan di STEM Indonesia

Dalam dua dekade terakhir, partisipasi perempuan dalam bursa kerja di Indonesia memang mengalami peningkatan. Namun, peluang untuk memperkuat keterwakilan perempuan di sektor-sektor tertentu masih terbuka lebar, tak terkecuali dalam bidang STEM.

Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 menunjukkan, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan masih tertinggal jauh jika dibandingkan laki-laki dengan persentase perempuan sebesar 56,7 persen dan laki-laki 84,34 persen.

Ketimpangan tersebut semakin terlihat di sektor teknologi. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat bahwa industri dengan kebutuhan keterampilan teknis tinggi, seperti artificial intelligence (AI) dan engineering, hanya menyerap sekitar 15–18 persen tenaga kerja perempuan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menilai, kondisi ini tidak terjadi tanpa sebab. Ia menyoroti adanya faktor-faktor struktural yang kerap menghambat, mulai dari persepsi sosial, kurangnya akses kepada sistem pendukung, hingga minimnya figur teladan (role model) perempuan.

Perspektif British Council tentang Keterwakilan Perempuan

Country Director British Council Indonesia and Director Southeast Asia Summer Xia menekankan bahwa diskusi seputar partisipasi perempuan di bidang STEM kini telah berkembang dan berorientasi pada pembukaan peluang bagi perempuan untuk berkarir di bidang tersebut.

"Perempuan dan laki-laki Indonesia kini memiliki akses pendidikan tinggi yang relatif setara. Tantangannya sekarang adalah bagaimana cara memberikan dukungan berkelanjutan bagi perempuan agar percaya diri untuk mengeksplorasi dan memilih jalur (karier) di bidang STEM," ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com, Rabu (8/4/2026).

Ia menyebutkan bahwa minat dan aspirasi perempuan kerap terbentuk sejak dini. Faktor itu kemudian memengaruhi perbedaan persepsi terhadap berbagai bidang.

"Indonesia masih membutuhkan lebih banyak role model perempuan di STEM agar generasi muda bisa melihat bahwa karier di bidang ini adalah sesuatu yang mungkin dan realistis," tambahnya.

Program Beasiswa yang Mendukung Perempuan STEM

Di tengah tantangan tersebut, berbagai inisiatif mulai bermunculan untuk membuka akses yang lebih luas bagi perempuan di bidang STEM. Salah satunya melalui program beasiswa Women in STEM dari British Council, seperti yang telah dijalani Disa.

Program itu merupakan bagian dari British Council and ASEAN-UK (Supporting the Advancement of Girls' Education) SAGE Women in STEM Scholarships yang menyasar perempuan dari 11 negara Asia Tenggara untuk menempuh studi di universitas di Inggris.

Selain mencakup biaya kuliah, tunjangan hidup, perjalanan, dan visa, program tersebut juga membuka peluang bagi penerima untuk terhubung dengan jejaring akademik dan industri global.

Summer menyoroti bahwa kolaborasi dengan berbagai kampus dan industri menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem pendidikan STEM yang lebih inklusif.

"Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga terhubung dengan industri, teknologi mutakhir, serta jejaring global yang akan sangat berharga ketika mereka kembali dan membangun karier," jelas Summer.

Dukungan Berkelanjutan untuk Alumni

Selain itu, British Council juga berfokus pada penguatan alumni, mulai dari pelatihan karier, mentoring, hingga membuka koneksi dengan berbagai sektor industri. Kegiatan-kegiatan yang berfokus pada alumni tersebut memperlancar transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja serta menjadi langkah penting dalam memperkuat partisipasi jangka panjang perempuan di bidang STEM.

Bagi Disa, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Ia tidak hanya mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga perspektif baru melalui interaksi dengan berbagai pihak di bidang yang sama.

"Pengalaman (bersama menjalani program tersebut) sangat berkesan, karena rasanya seperti mendapat pelukan hangat dari seorang kakak. Mereka lebih dari sekadar mentor," kenangnya.

Masa Depan STEM di Indonesia

Ke depan, sejumlah bidang studi, seperti transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), energi berkelanjutan, dan kesehatan menjadi pilihan yang semakin diminati. Tren tersebut mencerminkan kebutuhan pembangunan Indonesia ke depan.

"Kemajuan (perempuan di bidang STEM) yang signifikan bisa tercapai melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat," tegas Summer.

Seiring dengan peningkatan minat terhadap Women in STEM Scholarships dari British Council yang menarik talenta dari seluruh Indonesia, persaingan untuk mendapatkan beasiswa ini pun semakin ketat. Dalam proses seleksi, kejelasan motivasi kandidat menjadi kunci utama.

"Kandidat yang kuat adalah (mereka) yang secara jelas dapat menunjukkan keselarasan antara motivasi, pengalaman, serta tujuan masa depan," ungkap Summer.

Bagi perempuan muda seperti Disa, peluang di bidang STEM bukan lagi sekadar ambisi yang sulit digapai, melainkan jalan nyata yang dapat ditempuh. Dengan dukungan dan dorongan yang memadai, harapannya, semakin banyak perempuan yang dapat melangkah maju. Tidak hanya untuk menyongsong masa depan mereka sendiri, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan Indonesia.