Bripka Alfred Pulangkan 64 Warga Maybrat dari Hutan, Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026
Bripka Alfred Namora, anggota Polres Maybrat, berhasil memulangkan 64 warga Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, yang sebelumnya melakukan eksodus ke hutan. Warga tersebut telah kembali ke kampung halamannya dan menyatakan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Atas dedikasi dan upayanya ini, Bripka Alfred diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026, sebuah penghargaan untuk polisi teladan.
Pendekatan Humanis dan Kegiatan Masyarakat
Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sorong Selatan, Paskalis Sewa, mengungkapkan bahwa Bripka Alfred dikenal sebagai polisi yang sangat berdedikasi. "Kami memang sangat mengenal beliau secara baik karena kehadiran beliau dalam membangun komunikasi interaktif dan pendekatan-pendekatan persuasif sampai pada pemulangan pengungsi," kata Paskalis. Ia menambahkan bahwa Bripka Alfred banyak terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti turnamen olahraga untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda, yang bertujuan meyakinkan warga bahwa kondisi wilayah aman dan kondusif.
Paskalis menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut berjalan aman dan tertib, serta berhasil meyakinkan warga untuk kembali ke rumah masing-masing. "Kakak Alfred sendiri ya memang punya ide, punya pikiran sehingga kita lakukan kegiatan yang tujuannya meyakinkan situasi dan masyarakat bahwa situasi keamanan aman sehingga masyarakat bisa pulang," ujarnya. Menurutnya, Bripka Alfred sangat dekat dengan masyarakat, bahkan dikenal oleh warga di pelosok wilayah.
Proses Pemulangan yang Memakan Waktu Tiga Tahun
Bripka Alfred, yang saat ini bertugas sebagai Ps Kanit III Sat Intelkam Polres Maybrat, mengungkapkan bahwa motivasinya membantu pemulangan warga berasal dari panggilan hati. "Iya, jadi mungkin hal itu bergerak dari ini toh, selain sebagai anggota Kepolisian, terus saya juga merasa bahwa ini juga bagian dari keluarga, terus bagaimana wilayah ini bisa baik," katanya. Ia kerap memikirkan kondisi sumber daya manusia (SDM) di wilayah tugasnya dan ingin meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat.
Untuk memulangkan warga yang eksodus, Bripka Alfred berkoordinasi dengan tokoh masyarakat setempat dan menggunakan pendekatan bahasa lokal serta keagamaan. "Kita kasih motivasi bahwa kalau mereka ini tidak kita pulangkan, terus bagaimana dengan SDM kita? Itu juga kadang kita tidur di dalam berhari-hari, kasih motivasi," ujarnya. Ia menekankan bahwa komunikasi dengan bahasa daerah lebih menyentuh dan efektif dalam menyatukan pemahaman.
Proses pendekatan ini membutuhkan waktu hingga tiga tahun, dengan dukungan dari semua elemen pemerintah dan masyarakat. "Ini kan pola pikirnya kita orang Timur ini kan dia kalau tidak yakin, dia tidak berani. Dan dia itu kita punya, dia lihat dari kita. 'Oh orang ini dia serius, oh orang ini dia betul'," kata Bripka Alfred. Setelah berhasil, 64 warga dibawa bertemu pihak kepolisian dan pemerintah daerah untuk diberikan pemahaman tentang kehadiran negara dalam membantu kehidupan mereka.
Penyebab Eksodus dan Komitmen Bripka Alfred
Bripka Alfred menjelaskan bahwa warga melakukan eksodus akibat provokasi dari pihak-pihak tertentu dan sering mengalami teror. "Itu kan mereka juga kan kadang diteror dari mereka yang berbeda paham, bahwa 'kalian kalau berani melawan nanti kita apa-apakan'. Ya sudah, kita juga harus kasih keyakinan ke mereka bahwa negara tetap hadir," ujarnya. Ia berusaha memberikan pemahaman agar warga tidak mudah terhasut oleh provokator.
Alasan keterlibatannya dalam pemulangan warga berasal dari janji dan komitmen pribadi saat dilantik menjadi polisi. "Ya jadi setelah tugas, saya punya motto dalam tugas itu kan 'Tekadku Pengabdian Terbaik'. Jadi itu yang jadi motivasi buat saya," kata Bripka Alfred. Warga yang telah dipulangkan kini dibina dan mendapatkan bantuan dari pemerintah, seperti modal usaha kecil-kecilan, untuk membantu mereka beradaptasi dan kembali beraktivitas normal.



