Malam di Griya Asri 2, Tambun, Bekasi, baru saja beranjak gelap ketika suara sirene memecah sunyi. Jarum jam menunjukkan pukul 19.33 WIB, saat sebuah ambulans dari RS Polri perlahan berhenti di depan rumah duka. Di dalamnya, terbujur jenazah Nur Ainia Eka Rahmadhyna, korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, yang malam itu akhirnya pulang. Pantauan Liputan6.com, Selasa (28/4/2026), kedatangannya bukan sekadar membawa duka, tetapi juga memecahkan bendungan emosi yang sejak tadi ditahan keluarga. Begitu pintu ambulans terbuka, tangis pecah tanpa aba-aba. Halaman rumah yang dipenuhi kerabat dan tetangga mendadak larut dalam kesedihan. Beberapa orang menunduk dalam diam, sementara yang lain tak lagi mampu menyembunyikan air mata.
Peti Jenazah Diturunkan dengan Hati-Hati
Petugas menurunkan peti jenazah jurnalis Kompas TV itu dengan hati-hati. Di atasnya, hanya tertulis nama almarhumah, satu-satunya penanda yang bisa dikenali keluarga. Wajah Nur Ainia tak lagi dapat dilihat untuk terakhir kalinya, menyisakan ruang kosong yang tak tergantikan dalam ingatan orang-orang terdekatnya. Di antara kerumunan, sosok sang adik menjadi pusat perhatian. Ia tampak paling terpukul. Tangisnya pecah menjadi jeritan, memohon agar peti itu dibuka. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk peti jenazah, seolah berharap keajaiban kecil bisa terjadi, sekadar melihat wajah kakaknya untuk terakhir kali. Namun kenyataan tetap tak berubah. Kepergian itu telah menjadi garis akhir yang tak bisa ditarik kembali.
Keluarga Berusaha Tenangkan Sang Adik
Ayah, ibu, dan nenek almarhumah berusaha menenangkan. Mereka memeluk erat sang adik yang terus meronta dalam duka. Usaha mereka adalah bentuk kekuatan yang tersisa di tengah kehilangan yang begitu dalam, meski kesedihan malam itu terasa terlalu besar untuk ditenangkan dengan kata-kata. Di tengah kesedihan itu, sang ayah, Hary Marwata, mencoba menggambarkan sosok putrinya dengan suara yang tertahan. "Ya nurut lah ndak banyak ini (tingkah)," kata sang ayah. Perlahan, peti jenazah dibawa masuk ke dalam rumah dan ditempatkan di ruang duka. Suara tangis mulai mereda, berganti dengan lantunan doa yang dipanjatkan satu per satu. Dalam diam yang kini berbeda makna, Nur Ainia “pulang”, bukan lagi sebagai sosok yang menyapa, melainkan sebagai kenangan yang akan terus hidup di hati keluarganya. Malam itu, Griya Asri 2 tak hanya menjadi saksi kepulangan seorang anak, kakak, dan cucu. Ia juga menjadi saksi betapa kehilangan bisa begitu sunyi, namun meninggalkan gema yang panjang di hati mereka yang ditinggalkan.



