Ayahanda Nur Ainia Eka Rahmadhyna, Hary Marwata, mengenang momen terakhir bersama putrinya yang menjadi korban kecelakaan KRL di Bekasi. Dalam kesedihan yang mendalam, ia mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir dengan Ain terjadi pada Senin sore, 27 April 2026. Ain, sapaan akrab Nur Ainia, selalu meminta dijemput sepulang kerja, sebuah kebiasaan yang sangat dirindukan sang ayah.
Kebiasaan Ain yang Selalu Minta Dijemput
Hary Marwata menceritakan bahwa Ain selalu mengirim pesan untuk dijemput sekitar pukul 20.30 WIB setiap hari. "Biasanya memang minta dijemput sekitar setengah sembilan malam. Itu sudah rutin," ujarnya saat ditemui di rumah duka di Tambun, Bekasi, pada Selasa, 28 April 2026. Namun, malam nahas itu, Ain tidak kunjung pulang. Keluarga kesulitan melacak keberadaannya karena ponsel Ain tertinggal di lokasi kecelakaan.
Moda Transportasi dan Karakter Ain
Selama bekerja, Ain menggunakan KRL sebagai moda transportasi utama. Ia dikenal selalu memilih gerbong khusus perempuan. "Dia memang selalu di gerbong wanita. Sudah kebiasaannya begitu," tutur Hary. Di mata orang tuanya, Ain adalah sosok anak yang sederhana dan penurut. Sehari-hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sepulang kerja dan jarang bepergian. "Anaknya nurut, enggak banyak tingkah. Pulang kerja ya di rumah. Jarang keluar," kenang sang ayah.
Momen Terakhir Bersama Keluarga
Beberapa hari sebelum kejadian, Ain sempat menghabiskan waktu bersama ibunya untuk berbelanja. Selain itu, Ain turut membantu perekonomian keluarga. Meski sang ayah masih bekerja, kontribusi Ain dinilai cukup berarti. "Iya, dia ikut bantu," ucap Hary singkat. Momen terakhir yang diingat sang ayah terjadi pada Senin pagi, sebelum Ain berangkat kerja. Seperti biasa, ia menyiapkan bekal makanannya sendiri. "Enggak ada firasat apa-apa. Pamit biasa saja," katanya.
Kesulitan Keluarga Mencari Korban
Keluarga sempat kebingungan saat mencari keberadaan Ain. Sejak malam hingga keesokan harinya, adik-adiknya menyisir sejumlah rumah sakit, mulai dari RSUD hingga beberapa rumah sakit swasta, namun nama Ain belum juga ditemukan. "Dari awal memang nama dia belum ada. Adiknya cari ke mana-mana, sampai pagi dan siang belum ketemu," ujar Hary. Kepastian baru didapat setelah keluarga mendatangi RS Polri Kramat Jati. Di sana, pihak keluarga diminta melengkapi data, termasuk identifikasi melalui KTP dan sidik jari untuk memastikan identitas korban.
Penerimaan Keluarga atas Kepergian Ain
Kini, keluarga hanya bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Sang ibu masih dalam kondisi terpukul atas kepergian putrinya. "Masih shock, tapi tadi juga sudah tahlilan," ujar Hary. Meskipun berat, keluarga berusaha ikhlas dan mendoakan yang terbaik bagi Ain.



