Dampak Budidaya Sidat Nusakambangan bagi Ekonomi Warga Cilacap
Dampak Budidaya Sidat Nusakambangan bagi Ekonomi Warga

Budidaya sidat di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, yang awalnya merupakan program pembinaan bagi narapidana, kini memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat sekitar. Kegiatan ketahanan pangan di sektor perikanan ini turut mengubah stigma Pulau Nusakambangan dari 'pulau penjara' menjadi 'pulau kemandirian'. Transformasi ini dimulai setelah Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto dilantik oleh Presiden Prabowo pada Oktober 2024. Menteri Agus menginisiasi pemanfaatan lahan tidur di pulau tersebut menjadi lahan produktif yang mendukung misi Asta Cita Pemerintah, khususnya ketahanan pangan dan pengembangan UMKM.

Kegiatan Budidaya Sidat dan Dampaknya

Kegiatan budidaya sidat meliputi pembuatan kolam, pembuatan pakan, dan perawatan bibit hingga siap panen. Keberadaan kolam sidat ini telah menghidupi berbagai pihak, mulai dari pemilik warung, penjahit jaring kolam tambak (waring), hingga komunitas nelayan di pesisir Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Komarudin, seorang penjahit waring, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini. "Sangat membantu masyarakat pelaku usaha Bahari khususnya, seperti saya ini jadi bisa kerja. Jadi bisa untuk mencukupi keluarga saya," ujarnya pada Senin (1/6/2026). Ia berharap program ini terus berlanjut agar masyarakat dapat terus menikmati manfaatnya.

Hal serupa disampaikan Jasman, warga Cilacap lainnya yang juga bekerja sebagai penjahit waring. Sebelum adanya kolam budidaya sidat, ia sering tidak memiliki pekerjaan. "Ya saya menjahit waring ini buat menafkahi keluarga lah. Di rumah yang sehari-harinya nggak ada kerjaan jadi ada kerjaan buat nafkahin anak," tuturnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Peluang Kerja bagi Masyarakat

Yovieta Surabila, seorang perempuan asal Cilacap, mendapatkan kesempatan bekerja sebagai Kepala Administrasi Teknis Budidaya Sidat Pulau Nusakambangan. Ia bertanggung jawab atas manajemen kualitas air, penjadwalan pengecekan air rutin, pemberian pakan, serta administrasi data benih sidat. "Saya di sini sebagai admin budidaya sidat. Di sini saya bertanggungjawab pada manajemen kualitas air seperti menjaga kualitas air agar selalu terkontrol dengan menjadwalkan pengecekan air secara rutin setiap harinya. Selain itu tugas saya berfokus pada pemberian pakan atau food ratio dalam pemberian pakan setiap harinya pada pagi, sore dan malam hari," jelasnya.

Kepala Nelayan Glass Eel, Ade Rohman, menyatakan bahwa permintaan bibit sidat dari kolam budidaya Pulau Nusakambangan memotivasi nelayan setempat untuk melaut. Kepala Nelayan Sidat Alam, Daryanto, menambahkan bahwa sebelumnya pembelian bibit sidat tidak menentu, namun kini para nelayan dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Program (budidaya sidat) ini sangat membantu untuk nelayan-nelayan kami di lapangan untuk hasil tangkapan ini," kata Ade. "Kami para nelayan kampung laut merasa tertolong dengan adanya program tersebut, yang judulnya sidat tangkapan. Sebelumnya jarang sekali laku, kadang laku, kadang tidak. Sekarang (kondisinya) berbeda, ada pembelinya, sehingga bisa untuk mencukupi kebutuhan para nelayan," tutur Daryanto.

Dampak bagi Usaha Kecil

Turini, pemilik warung di sekitar Pulau Nusakambangan, merasakan peningkatan penghasilan berkat kegiatan budidaya sidat. Warungnya kini ramai dikunjungi tamu yang datang untuk melihat budidaya sidat serta karyawan kolam. "Alhamdulillah dengan adanya program Pak Menteri dan rombongan, semuanya di sini membuat para masyarakat di sini khususnya di daerah kami, ada pekerjaan yang bisa dikerjakan setiap hari, dan ada pendapatan, pemasukan untuk keluarga," ungkapnya. "Berkat program yang Bapak adakan, warung kecil kami alhamdulillah sekarang semakin banyak pengunjung karena banyak tamu-tamu berkunjung ke sini, dan karyawan-karyawannya semakin banyak, mereka jajannya di sini," pungkasnya.

Keterlibatan Narapidana dan Masyarakat

Budidaya sidat merupakan program unggulan pembinaan ketahanan pangan di Nusakambangan. Saat ini, operasional tambak melibatkan 50 narapidana dari Lapas Terbuka Nusakambangan dan Lapas Nirbaya yang berstatus minimum security. Narapidana dari Lapas Kelas I Batu, yang merupakan lapas super maximum security, tidak terlibat langsung, melainkan petugas bidang kegiatan kerja (giatja) yang berperan dalam pengawasan dan pengawalan. Selain narapidana, kegiatan ini juga menyerap 20 tenaga kerja dari masyarakat umum, terdiri dari empat tenaga administrasi dan 16 pekerja lapangan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Menariknya, tiga orang mantan narapidana juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka membuktikan bahwa program pembinaan tidak berhenti saat masa pidana berakhir, melainkan berlanjut dalam bentuk kesempatan kerja yang membantu reintegrasi ke tengah masyarakat.

Prospek ke Depan

Ke depan, hasil budidaya sidat Nusakambangan diarahkan untuk menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor ke Jepang yang memiliki permintaan tinggi terhadap komoditas ini. Menteri Agus menegaskan, "Dengan demikian, budidaya sidat di Nusakambangan tidak hanya menjadi instrumen pembinaan warga binaan, tetapi juga berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi baru yang memberikan manfaat berlapis bagi masyarakat Cilacap dan kawasan sekitarnya."