Nelayan Ciliwung Ungkap Fakta Mengapa Ikan Sapu-Sapu Sulit Dibasmi
Nelayan yang beroperasi di bantaran Sungai Ciliwung, khususnya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, menyatakan bahwa upaya pemberantasan ikan sapu-sapu menghadapi tantangan besar dan tidak mudah dilakukan secara tuntas. Salah satu nelayan setempat, Ajum (39 tahun), mengungkapkan bahwa populasi ikan ini tetap sulit dikendalikan meskipun penangkapan dilakukan secara rutin oleh pihak berwenang.
"Memang bagus dibersihkan karena termasuk hama, tapi enggak bakal bisa habis. Yang sudah biasa mencari saja enggak bisa membersihkan semuanya," kata Ajum saat ditemui di lokasi. Ia menekankan bahwa pembersihan tetap penting untuk menjaga kualitas lingkungan, namun hasilnya tidak pernah maksimal akibat karakteristik biologis ikan tersebut.
Kemampuan Berkembang Biak yang Luar Biasa Cepat
Menurut penjelasan Ajum, kunci kesulitan dalam pemberantasan terletak pada kemampuan reproduksi ikan sapu-sapu yang sangat tinggi. "Kembang biaknya cepat, satu ekor bisa sampai ribuan kalau menetas," ujarnya. Fakta ini membuat populasi ikan sapu-sapu tetap bertahan dan bahkan berkembang pesat, meski upaya pembersihan dilakukan secara intensif.
Ajum menggambarkan situasi ini dengan analogi pengendalian nyamuk, yang meski dibasmi tetap muncul kembali. "Seperti nyamuk, dibasmi tetap ada lagi," katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa bangkai ikan yang tidak diangkat dapat mencemari air sungai, sehingga pembersihan tetap diperlukan untuk mencegah dampak negatif lebih lanjut.
Dampak Negatif terhadap Ekosistem dan Infrastruktur
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah merencanakan operasi pembersihan sungai dan saluran air, termasuk penangkapan ikan sapu-sapu, sebagai bagian dari upaya menjaga fungsi drainase dan lingkungan. Ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai spesies invasif yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.
Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan meliputi:
- Merusak tanggul dan infrastruktur sungai akibat aktivitasnya.
- Memangsa ikan lain serta telurnya, sehingga mengurangi keanekaragaman hayati.
- Mengancam kualitas air jika bangkainya tidak diangkat dengan cepat.
Operasi penangkapan serentak telah dilakukan di lima wilayah DKI Jakarta, termasuk di kawasan Setu Babakan, Jakarta Selatan, sebagai persiapan menghadapi musim hujan yang diprakirakan terjadi pada September 2026. Kegiatan ini bertujuan tidak hanya untuk melindungi ekosistem, tetapi juga memastikan sistem drainase berfungsi optimal.
Pentingnya Kesadaran Lingkungan dan Upaya Berkelanjutan
Meskipun pemberantasan total sulit dicapai, nelayan dan pihak berwenang sepakat bahwa upaya pembersihan harus terus dilakukan. Ajum menegaskan bahwa menjaga kebersihan sungai adalah tanggung jawab bersama untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Dengan fakta bahwa ikan sapu-sapu dapat bertelur hingga ribuan ekor sekali berkembang biak, diperlukan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan. Hal ini mencakup pemantauan rutin, edukasi masyarakat tentang bahaya spesies invasif, serta kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam menjaga kelestarian sungai.



