Indonesia Pacu Ekonomi Hijau dengan Investasi USD 3,5 Miliar dari JETP dan AZEC
Investasi Hijau Indonesia USD 3,5 Miliar dari JETP dan AZEC

Indonesia Pacu Ekonomi Hijau dengan Investasi USD 3,5 Miliar dari JETPA dan AZEC

Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmen kuat dalam mewujudkan transformasi investasi hijau dan dekarbonisasi nasional. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan mengamankan pendanaan internasional melalui skema Just Energy Transition Partnerships (JETP) dan Asia Zero Emission Community (AZEC). Hingga saat ini, total dana yang telah dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi hijau mencapai 3,5 miliar dolar AS, setara dengan Rp 58,79 triliun berdasarkan kurs Rp16.799 per dolar AS, menandakan progres nyata dari komitmen global.

Alokasi Pendanaan dan Komitmen Pemerintah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merinci alokasi pembiayaan hijau yang diterima Indonesia. Program JETP memberikan alokasi jumbo sebesar 21,4 miliar dolar AS, sementara inisiatif AZEC menyumbang alokasi senilai 500 juta dolar AS. Airlangga menegaskan bahwa percepatan program AZEC dan JETP merupakan komitmen Indonesia untuk merealisasikan ekonomi hijau dan dekarbonisasi.

"Dari kedua program tersebut, kami sudah memanfaatkan hampir 3,5 miliar dolar AS," ujar Airlangga Hartarto dalam acara China Conference: Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026). Selain mengandalkan mitra global, pemerintah juga menyiapkan alokasi APBN Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp 404,2 triliun. Dana ini ditujukan untuk penguatan ketahanan energi serta pengembangan ekonomi hijau demi masa depan yang berkelanjutan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Proyek Strategis dan Pengembangan Infrastruktur Hijau

Untuk mewujudkan ketahanan energi, pemerintah tengah mempersiapkan sejumlah proyek hijau strategis, antara lain:

  • Pengembangan Green Energy Corridor Sulawesi (GECS) serta Green Bond Development Facility (GBDF) yang pendanaannya didukung oleh JETP.
  • Pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang tercatat mencapai 3.686 Gigawatt (GW), didukung pembangunan jaringan listrik hijau atau green supergrid sepanjang 70 kilometer.
  • Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) melalui Danantara Indonesia, dengan tahap konstruksi direncanakan dimulai pada Maret 2026.

Hilirisasi industri baterai kendaraan listrik dan panel surya terus ditingkatkan, bersama pengembangan bahan bakar nabati B40 hingga B50, Sustainable Aviation Fuels (SAF), serta hidrogen dan ammonia hijau. Teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) juga ditingkatkan kapasitasnya untuk menekan emisi karbon secara efektif.

Dampak Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja

Pengembangan ekonomi hijau ini diproyeksikan mampu memberikan dampak signifikan bagi sektor ketenagakerjaan nasional. Pemerintah menargetkan penciptaan hingga 4,4 juta lapangan kerja baru yang akan terealisasi hingga tahun 2029 mendatang. Pencapaian target tersebut akan didukung melalui berbagai program pengembangan sumber daya manusia, seperti program magang dan pengembangan keterampilan berkelanjutan.

"Pemerintah berkomitmen untuk merealisasikan ketahanan energi sebagai prioritas utama nasional, seiring dengan penguatan ketahanan pangan," tegas Airlangga. Dengan langkah-langkah konkret ini, Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin ekonomi hijau di kawasan Asia Tenggara, mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh masyarakat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga