Ekonomi Sirkular Jadi Solusi Atasi Limbah Elektronik di Industri Gadget
Ekonomi Sirkular Solusi Limbah Elektronik Industri Gadget

Siklus pergantian perangkat elektronik yang semakin cepat menghadirkan tantangan baru bagi industri gadget, yaitu pengelolaan limbah elektronik atau electronic waste (e-waste). Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan, ekonomi sirkular mulai dipandang sebagai pendekatan yang dapat membantu memperpanjang siklus hidup perangkat elektronik sekaligus mengurangi potensi limbah.

Implementasi Ekonomi Sirkular

Salah satu implementasi ekonomi sirkular adalah melalui program trade-in, yang memungkinkan perangkat lama kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan yang lebih terstruktur. Pendekatan ini juga mulai mendapat perhatian investor seiring berkembangnya praktik investasi berkelanjutan.

Analis Capital Market dan Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menyatakan bahwa meskipun belum menjadi kewajiban dalam penilaian investasi, ekonomi sirkular mulai memiliki relevansi dalam pembahasan ESG. Regulator terus mendorong investasi berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, di mana ESG menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Meskipun belum ada standar baku dalam menilai ESG suatu investasi, ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu aspek yang dinilai.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Inisiatif Pelaku Industri

Kesadaran terhadap pengelolaan limbah elektronik juga tercermin dalam berbagai inisiatif yang dijalankan pelaku industri. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dalam laporan keberlanjutan terbarunya menempatkan pengelolaan limbah elektronik sebagai salah satu fokus perusahaan. Sepanjang 2025, Erajaya berhasil mengumpulkan dan mendaur ulang 3.911 unit limbah elektronik yang berkontribusi terhadap potensi pengurangan emisi hingga 437 ton CO2e per tahun serta penghematan energi sebesar 301.261 kWh. Perusahaan juga menjalankan berbagai program konservasi lingkungan, termasuk penanaman dan perawatan 7.486 pohon di area konservasi seluas 16 hektar di Bogor dan Bandung.

Adopsi Program Keberlanjutan

Menurut Wawan, semakin luas adopsi program keberlanjutan oleh dunia usaha berpotensi meningkatkan perhatian investor terhadap aspek tersebut. Sosialisasi program-program keberlanjutan akan semakin membuka wawasan investor. Jika adopsinya semakin luas, bukan tidak mungkin nantinya akan semakin didorong melalui regulasi. Idealnya, investor akan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki kinerja baik dan didukung penerapan ESG, salah satunya melalui ekonomi sirkular.

Di sisi lain, Wawan menilai program trade-in tidak hanya relevan dari sisi keberlanjutan, tetapi juga memiliki nilai bisnis yang nyata. Program seperti ini dapat menjadi loyalty program sekaligus membantu mengurangi limbah elektronik. Bagi konsumen, program ini merupakan win-win solution karena konsumen merasa dihargai dan dapat menukarkan perangkat lama tanpa pusing. Di sisi lain, bagi emiten, program seperti ini dapat menciptakan captive market selama nilai yang diberikan tetap menarik.

Wawan menambahkan bahwa tren ini akan semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap isu keberlanjutan. Konsumen akan terus berkembang dan generasi muda akan semakin melek terhadap isu-isu ESG. Meskipun investor tetap akan berfokus pada return dan kinerja perusahaan, penerapan ekonomi sirkular berpotensi menjadi salah satu faktor kompetitif bagi perusahaan yang lebih awal mengadopsinya. Success story dari program seperti ini dapat menjadi katalis positif bagi investor.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga