Media asing Reuters menyoroti berbagai kebijakan populis Presiden Prabowo Subianto yang disebut memicu 'lingkaran kehancuran' di pasar Indonesia. Pemberitaan Reuters tersebut ditayangkan pada Senin (8/6/2026) dengan judul: 'Prabowo's populist policies propel a 'doom-loop' in Indonesian markets'.
Kebijakan Populis dan Dampaknya
Reuters menuliskan bahwa Prabowo kehilangan kepercayaan investor dan agenda pertumbuhannya terancam gagal. Kebijakan populis yang dimaksud antara lain adalah program-program yang dianggap terlalu fokus pada kepentingan jangka pendek tanpa mempertimbangkan stabilitas ekonomi jangka panjang.
Reaksi Pasar
Pasar Indonesia merespons negatif terhadap kebijakan tersebut. Indeks saham dan nilai tukar rupiah mengalami tekanan. Investor asing mulai menarik dananya dari pasar modal Indonesia, memperburuk situasi ekonomi yang sudah rapuh.
Ancaman Kegagalan Agenda Pertumbuhan
Agenda pertumbuhan ekonomi yang digagas Prabowo terancam gagal karena kebijakan yang tidak konsisten dan kurangnya kepercayaan dari pelaku pasar. Hal ini dapat menghambat pencapaian target pertumbuhan yang ambisius.
Reuters juga menyoroti bahwa kebijakan populis ini dapat menciptakan siklus negatif yang sulit diputus, di mana ketidakpercayaan investor menyebabkan pelemahan ekonomi, yang kemudian mendorong lebih banyak kebijakan populis untuk meredam dampak sosial.
Pemerintah Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terhadap pemberitaan Reuters tersebut. Namun, beberapa pengamat ekonomi menilai bahwa kritik ini perlu dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki arah kebijakan ke depan.



