Serangkaian serangan udara Rusia kembali menghantam wilayah Ukraina, hanya beberapa jam setelah Presiden Volodymyr Zelensky melakukan pembicaraan dengan sekutu-sekutu Kyiv di London, Inggris. Akibat gempuran tersebut, sedikitnya tiga orang tewas, termasuk seorang wanita hamil.
Korban Jiwa di Chuguiv
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, mengonfirmasi bahwa sedikitnya tiga orang tewas, termasuk seorang wanita hamil berusia 22 tahun, di kota Chuguiv yang terletak di wilayah Kharkiv, Ukraina bagian timur laut. Wali Kota Chuguiv, Galyna Minaeiva, menambahkan bahwa kota tersebut dihantam rudal dan drone Shahed buatan Iran yang diluncurkan oleh Rusia.
Respons Ukraina
Ukraina mengecam serangan ini sebagai bentuk teror terhadap warga sipil. Menlu Sybiga menyatakan, "Karena tidak mampu mencapai tujuannya di medan perang, Rusia meningkatkan teror terhadap warga sipil. Kami mendesak dunia untuk meningkatkan tekanan pada rezim Rusia dan lebih meningkatkan biaya teror ini bagi agresor." Layanan darurat Ukraina merilis foto-foto yang menampilkan kobaran api yang melalap bangunan permukiman dan mobil-mobil yang diparkir.
Konteks Invasi
Invasi Rusia ke Ukraina telah memasuki tahun kelima. Meskipun Moskow merekrut hingga 30.000 petempur baru setiap bulan, kemajuan Rusia di garis depan pertempuran yang luas terhenti tahun ini. Kedua pihak telah meningkatkan serangan drone jarak jauh. Pekan lalu, Presiden Vladimir Putin menolak usulan Zelensky untuk melakukan pembicaraan tatap muka guna mengakhiri perang.
Pertemuan di London
Zelensky, pada akhir pekan, bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz di London. Dalam pertemuan itu, ketiga pemimpin negara sekutu Ukraina menyatakan dukungan untuk usulan "dialog langsung" dari Kyiv. Saat berbicara kepada media Inggris, Zelensky mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu oligarki Rusia Roman Abramovich di Kyiv dan menyampaikan pesan kepada Putin bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayahnya.



